Gaet Perhatian Siswa dengan Metode yang Menyenangkan, Ya atau Tidak ?

Kalau banyak guru yang menanti pelatihan Kurikulum 2013 (K13) dan tetap menanti walau tak kunjung diberi pelatihan oleh pemerintah (dalam hal ini Kementerian/Dinas Pendidikan) maka ibu guru yang satu ini tak menyerah hanya dengan menunggu. Dia mencoba mempelajari sendiri dan mempraktikkan apa yang diminta oleh K13 dalam bahan ajar dan perlengkapan belajar-mengajar di sekolah dasar tempatnya mengabdi. Sungguh saya terpesona dengan materi yang saya saksikan pada tanggal 26 April sore di Festival Hardiknas 2018 (Pesta Pendidikan) itu. Sampai-sampai, menjelang kelas usai, saya berpandang-pandangan dengan salah seorang kawan di ruang kelas dan mengatakan, “Andai semua guru seperti Yus!”


Materi berjudul Gaet Perhatian Siswa dengan Metode Pembelajaran yang Menyenangkan itu dibawakan oleh Yusmira – guru SDN Paccinang. Sudah cukup lama saya mengenalnya dan dari banyak perbincangan saya menyimpulkan Yus – begitu saya biasa menyapa perempuan berijazah S2 ini adalah guru yang sangat mencintai pekerjaannya.

Tak Ada Metode yang Paling Tepat, Kreatiflah Memilih Metode


“Tidak ada metode yang paling tepat dalam mengajar karena tergantung pada kesiapan guru dan kesiapan siswa,” Yus mengatakan hal ini mengawali presentasinya.

Yus memberi contoh kasus siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari pembagian bersusun. Di jaman old, banyak guru yang melakukan setrap (strap) pada siswanya. Bagaimana di jaman now? Di zaman sekarang, guru harus lebih kreatif, misalnya dengan memberikan metode yang mendukung pembelajaran kinestetik atau auditori.

K13 membuat guru dituntut untuk belajar mandiri. Yus mulai mempelajari K13 sejak tahun 2013. Lebih banyak belajar otodidak dengan “bertanya pada Google”. Google bagaikan kawan karib Yus. Langkah-langkah yang kemudian diambil Yus, tak lepas dari pendekatan ilmiah dalam pembelajaran: observing (mengamati), questioning (menanya), associating (menalar), experimenting (mencoba), dan networking (membentuk jejaring).

Kenali Gaya Belajar Siswa


Selain belajar mandiri, menurut Yus guru juga dituntut untuk mengenali gaya belajar siswanya per individu. Misalnya, nih anak yang sangat aktif dan suka  memukul itu tergolong anak kinestetik. Anak ranking 1, menurut pengamatan Yus merupakan anak auditory sementara anak yang prestasi belajarnya sedang-sedang itu gabungan dari visual dan kinestetik. “Jangan salahkan siswanya kalau gaya belajarnya (yang cocok) kinestetik,” ujar Yus. Untuk anak taman kanak-kanak, biasanya mereka masih lebih cocok dengan gaya belajar kinestetik maka ajarlah anak dengan metode bermain atau memakai video. Frekuensi bermainnya sesuaikan dengan karakter belajar dan tujuan pembelajaran.

Role playing
Untuk siswa sekolah dasar yang memiliki gaya belajar visual, gunakan layar film, komedi, buku, atau  berilustrasi. Untuk yang gaya belajarnya auditori, gunakan metode dari kata-katanya sendiri, pidato, putar rekaman, atau biarkan jelaskan materi kepada orang lain. Sedangkan untuk anak kinestetik cocoknya menggunakan metode yang bergerak, lakukan gerakan mencocokkan, buat model, atau mind mapping.

Harapan Sebuah Pembelajaran di Kelas


Metode mencatat bisa digunakan namun jika siswa bosan, cobalah cara bagaimana agar mencatat itu lebih menyenangkan. Karena mencatat penting juga sebenarnya. Coba gunakan metode mind mapping agar kegunaan mencatat sebagai cara untuk “menyimpan materi” supaya lebih mudah diingat/dipanggil kembali (oleh ingatan) saat evaluasi.

Yus mengajak para peserta untuk berlatih membuat metode mengajar yang menarik dengan memberikan bidang studi dan contoh topiknya. Para peserta bisa memilih dari aneka metode seperti eksperimen, diskusi, debat, karya wisata, bermain peran, ceramah plus, metode global, drill, inquiry, metode resitasi, metode bagian, metode discovery, dan sebagainya. Para peserta diharapkan berkreasi dan menyebutkan alasannya memilih metode tersebut.


Bagaimana dengan dua metode ini yang  masih sering digunakan hingga saat ini? CPTT (Ceramah Tambah Tanya-Jawab dan Tugas) dan CPDL (Ceramah Tambah Demonstrasi dan Latihan)? Tidak masalah, menurut Yus. Hanya saja buatlah kedua metode itu menjadi lebih menyenangkan. Bagaimana caranya? Misalnya tugas atau latihannya dibuat dalam bentuk make a match, yang mana soal didesain supaya anak bisa menghubung-hubungkan hal-hal yang berpasangan.

Guru-guru pun biasa menggunakan metode resitasi, yaitu anak-anak diminta membaca dan membuat resume sendiri. Bagi anak yang kemampuan auditorinya bagus mungkin tak masalah tapi berbeda dengan anak lain yang gaya belajarnya lebih ke visual. Nah, guru bisa menggunakan metode lain, semisal membuat komik. Membuat resume kan tidak harus dalam bentuk tulisan, toh?

Yus memperlihatkan contoh resume dalam bentuk komik yang dibuat siswa-siswinya. Ada salah seorang siswanya yang baru terlihat jelas bakat menggambarnya setelah diberi tugas membuat komik. Untuk anak seperti ini, Yus kemudia memotivasinya untuk kelak lebih banyak belajar membuat animasi, dengan komputer misalnya. Bagaimana jika kemampuan seorang anak kalah jauh dengan teman-temannya? Tak mengapa bagi Yus. Dia menilai kemampuan unik si anak. Sebuah kemajuan berarti jika ada yang semua tak bisa dilakukannya lalu kemudian bisa dilakukannya. Atau dinilai saja usahanya. Usaha keras pun patut mendapatkan apresiasi.

Metode resitasi bukan hanya mencatat dan membuat komik. Ada cara-cara lain, semisal membuat peta pikiran atau tabel. Guru harus pandai mencoba semua metode yang mungkin. Mengapa? “Karena kalau tak pakai semua metode, kita tidak bisa ‘meraba’ kemampuan semua siswa,” papar Yus.

Contoh lain yang dipaparkan Yus adalah dengan mengganti tokoh dalam bacaan menjadi nama-nama yang akrab dengan para siswa. Misalnya saja tokoh Korea atau anime Jepang yang mereka tahu melalui tontonan. Yus belajar banyak, bukan hanya terkait metode melainkan juga mengenai kesukaan siswa-siswi SD jaman now. Bisa juga diganti dengan film yang mereka sukai.

Di akhir kelas saya berbincang dengan Yus mengenai Kurikulum 2013. Dari penjelasannya, saya paham kalau kurikulum baru ini sebenarnya memberi ruang yang sangat lapang bagi para guru untuk berkreasi. Yus membenarkan. Sayangnya, masih banyak guru yang tidak bisa menerjemahkannya apalagi memberikan metode pembelajaran yang menarik bagi para siswanya. Bukan berarti semua guru tak bisa, saya tak mengatakan itu. Tapi kita bisa lihat di lapangan, mana guru yang mampu berkreasi dan mengajar dengan hati dan mana yang terpaku pada masa lalu, ketika dia diajar dahulu. Well, kembali kepada ibu dan bapak guru, ingin menggaet perhatian siswa dengan metode yang menyenangkan atau tidak?

Makassar, 19 Mei 2018

Keterangan: foto pertama dan kedua berasal dari A. Bunga Tongeng.
Gambar yang tengah dari Pixabay.com

Baca juga dua tulisan sebelumnya mengenai Festival Hardiknas 2018:


Share :

3 Komentar di "Gaet Perhatian Siswa dengan Metode yang Menyenangkan, Ya atau Tidak ?"

  1. Luar biasa kak niar menulis...exelent..

    ReplyDelete
  2. Kur 13 memang membuat kami mau nggak mau untuk kreatif. Mencari cara bagaimana agar pembelajaran bisa tersampaikan dengan menarik.

    Baca tulisan Mbak ini saya jadi makin tergugah dan siap untuk action di tahun ajaran baru nanti.

    ReplyDelete
  3. gaya belajar dg visual jd favorit.. selain membuat tertarik, jg gampang mengingatnya.. menurut pribadi sii

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^