Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini 

Tulisan ini dimuat di rubrik Opini Harian Fajar pada 22 April 2016. By the way, mohon maaf buat teman-teman blogger, saya tidak bisa maksimal BW karena laptop sedang rusak. Alhamdulillah hari ini dapat pinjaman komputer buat upload.

Sekali penetapan namanya sebagai hari istimewa bagi perempuan Indonesia, abadi dan harumlah namanya. R. A. Kartini, namanya sudah merasuki rakyat Indonesia sebagai pejuang untuk kaumnya. Baik yang mengerti sejarah hidupnya ataupun tidak, semuanya sudah sama tahu kalau 21 April - tanggal kelahirannya telah lama ditetapkan sebagai hari istimewa. Hari di mana kita kembali menggali bagaimana seharusnya menjadi perempuan Indonesia.

Sebagian orang mengartikan Kartini sebagai pejuang emansipasi yang membuka pintu keajaiban sehingga perempuan akhirnya bisa berkiprah seperti lelaki. Menjadikan kita bangga dengan adanya pemimpin, dokter, insinyur, astronot, atau atlet angkat besi perempuan. Sebagian orang mengira kini kita sudah mewujudkan cita-cita Kartini. Benarkah demikian?

Sekarang, mari kita sedikit mengurai .4 hal penting yang dilakukan Kartini:

Satu. Kartini tidak menjadi penentang adat meski hatinya galau. Pada akhirnya dia menjalani masa pingitannya dan bersedia dinikahkan dengan lelaki bangsawan pilihan orang tuanya, yaitu K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah punya 3 istri.

Dua. Kartini MEMBACA. Untuk orang yang pendidikan formalnya harus terhenti pada usia 12 tahun, dengan luar biasanya Kartini mampu membaca banyak buku dan majalah, bahkan yang berbahasa Belanda dan yang tergolong cukup berat bagi perempuan masa kini yang berpendidikan tinggi sekali pun. Ia membaca dan memperhatikan topik-topik sosial, religi, dan umum.

Tiga. Kartini MENULIS. Bukan hanya membaca, perempuan Jawa ini juga menulis. Bukan hanya surat-surat untuk sahabat-sahabatnya seperti Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar. Tulisan-tulisannya ada juga yang diterbitkan di media cetak di negeri Belanda. Tepatnya di majalah perempuan De Hollandsche Lelie.

Empat. Selain membaca dan menulis, Kartini banyak merenung. Bukan hanya mengkritik, ia juga berbuat. Ia mendirikan sekolah perempuan di Rembang usai pernikahannya tahun 1903. Sekolah perempuan adalah langkah kecil yang bisa dilakukannya untuk membuat perubahan. Apakah sekolahnya mengajarkan perempuan untuk menjadi seperti atau lebih hebat dari lelaki? Tidak. Ia hanya menginginkan perempuan bisa mengembangkan dirinya dengan keterampilan dan pengetahuan dan tetap pada kodratnya sebagai pendidik utama anak-anaknya.


Jika yang dilakukan Kartini dulu menembus batas budaya dan wilayah, di zaman ini, apa yang dilakukan Kartini seharusnya sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh perempuan mengingat teknologi informasi yang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Dulu Kartini mampu melahap bacaan berat meski pendidikannya tak tinggi. Tulisannya diterbitkan di Belanda ketika menulis tak semudah sekarang yang bisa melalui internet.

Menilik hal ini, seharusnya di zaman ini sudah banyak permpuan atau ibu rumah tangga berpendidikan tinggi yang melakukannya, Namun pada kenyataannya tidak demikian adanya. Membaca dan menulis masihlah dianggap tak lazim dilakukan oleh ibu rumah tangga masa kini.

Saat sedang membawa atau membaca buku nonfiksi sering saya temui pertanyaan, "Ibu mengajar/guru/dosen, ya? " Padahal guru ataupun dosen bukanlah profesi saya. Mereka bertanya demikian karena di masa sekarang pun masih tak lumrah melihat ibu rumah tangga membaca buku nonfiksi.

Beberapa kali memenuhi undangan talkshow di televisi, saya dan teman-teman di komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar disambut dengan antusias dan takjub karena tak biasanya ibu-ibu suka menulis. "Biasanya ibu-ibu suka gosip, " beberqpa orang mengatakan demikian.

Lihatlah, seperti apa pandangan kebanyakan kita tentang ibu-ibu? Coba telisik bagaimana sinetron kita menggambarkan sekumpulan ibu yang tidak sedang berada dalam kelompok pengajian: bergosip! Entah begitulah realitanya atau sinetron yang memengaruhi realita kita. Andai Kartini bisa bersuara melampaui alam, mungkin ia akan heran dan berkata, "Bukankah memang hal itu (membaca dan menulis) yang saya contohkan berabad-abad yang lalu? Dan mengapa sekarang, ketika menulis dan membaca seharusnya sudah sedemikian mudah dilakukan oleh ibu rumah tangga berkat internet, hal-hal itu masih dianggap tak wajar? "

Membaca dan menulis adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan perempuan pun ibu rumah tangga untuk mengembangkan diri. Jangan dulu muluk-muluk memikirkan menulis untuk menjadi buku atau dimuat di media cetak walau itu tidaklah mustahil bagi perempuan di zaman ini.

Maksudnya, lakukan langkah kecil dulu. Sesama perempuan bisa saling meningkatkan kemampuan diri dengan membagikan hal-hal baik melalui tulisan. Temukan hal-hal baik di sekeliling kita lalu ungkapkan dalam bahasa tulisan di media sosial. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas bernuansa positif di dunia nyata atau media sosial. Sebarkan kebaikan dari komunitas itu di media sosial Itu contoh-contoh kecilnya.

Menulis itu tak sulit. Seperti berbicara, kita hanya perlu membiasakannya saja, Membaca dan menulis juga bisa mendorong kita mengembangkan kemampuan mencari informasi. Di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) ini, kemampuan mencari informasi menjadi sebuah kemampuan yang kita butuhkan. Untuk memiliki daya saing tinggi, berkompetisi dengan warga ASEAN, pengembangan diri haruslah diupayakan semaksimal mungkin. Untuk itu kita dituntut pandai mencari dan mengelola informasi sebaik mungkin. Anak-anak kita, pada masanya nanti mau tidak mau, dituntut pula untuk menjadi generasi tangguh dalam berkompetisi. Dengan demikian, ibu-ibu mereka juga harus bisa mendukung mereka dengan contoh, motivasi, dan mendidik dengan soft skill yang mumpuni. Nah, siapkah kita?

Jawabannya "harus siap" karena kita sudah ada di dalam era MEA, Sudau bukan pilihan lagi. Adalah keharusan, perempuan masa kini cerdas mencari informasi. Untuk dirinya dan untuk anak-anaknya.

Makassar, 23 April 2016


Share :

9 Komentar di "Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini "

  1. Sepakat sekali bahwa membaca dan menulis tidak mengenal tingkat pendidikan ataupun usia seseorang bahkan gender. Perempuan harus cerdas agar anak-anaknya kelak jadi generasi unggul

    ReplyDelete
  2. Tulisannya ketjeh beudd! Calon ibu wajib baca nih. Hehe

    ReplyDelete
  3. Aku suka baca tulisanmu ini mbaak ^o^.. enak dibaca, ga berat.

    Kalo soal kartini, aku jg takjub sbnrnya ttg kemampuan beliau yg bisa berbahasa belanda itu.. Jadi murni krn otodidak belajarnya yaa? Hebat :)

    ReplyDelete
  4. semua yg dilakukan Ibu KArtini membuat saya terhipnotis sekaligus ter"tampar". Betapa beliau di eranya, sdh mampu menembus batas, bhkan tulisannya terbit di Belanda, di masa surat menyurat masih butuh waktu berbulan-bulan lamanya utk sampai alamat. Lha Ibu Kartini dgn semangat mengirim tulisan di Belanda dan sukses untuk diterbitkan.

    Emansipasi yg beliau kumandangkan, bukan utk membuat perempuan melupakan kodratnya atau menjadi lebih hebat dr kaum pria, tapi semata demi mengoptimalkan kemampuan dirinya.

    ReplyDelete
  5. suka sama tulisan ini dan semoga kita semakin bermanfaat utk org lain, minimal utk diri sendiri dulu dan anak2 kita

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^