Menjadi Muslimah yang Merdeka dari Ketakpedulian pada Perasaan Saudarinya

Perempuan itu, sebut saja namanya Tria, setengah kesal. “Niar, jangan kau ajak-ajak lagi saya ikut kajian Jumat. Saya tidak mau. Tidak akan mau!”
Niar hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Tak tahu mau bilang apa lagi. Sudah sebulanan ini dia membujuk-bujuk Tria untuk ikut kajian Jumat khusus akhwat di sekolah. Akhirnya bujuk-rayunya berhasil. Tria yang sehari-harinya rada tomboi, dengan rok abu-abunya yang di atas lutut itu pun mau menuruti ajakannya. Mungkin karena tak enak saja pada Niar. Daripada nyaris tiap hari mendengar rengekannya, Tria menuruti saja ikut kajian Jumat hari ini.


Tapi Tria kapok ikut kajian Jumat. Apa itu! Isinya hanya menghujat perempuan yang tak berjilbab. Tahu begini, mending dia jalan sama Siska tadi. Jangan kau ajak-ajak lagi Niar, saya tak bakalan mau.

Niar tahu, tak enak rasanya dihujat. Dia sendiri sudah sering mendengarkan hujatan dan celaan terhadap muslimah tak berjilbab karena dia pun belum berjilbab. Dia sendiri merasakan adanya pembedaan perlakuan. Tapi sesekali dia mengesampingkan rasa tidak enaknya, demi mendapatkan ilmu agama. Dia ingin mencari tahu jati dirinya sebagai manusia dan apa yang harus dilakukannya.

Sampai hari ini, dia sudah mendapatkan wawasan dari kajian Jumat bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Dia tahu menutup aurat itu wajib tapi sayangnya, tak semudah kawan-kawan lainnya ia bisa mengenakan jilbab. Keluarganya menganggap jilbab itu asing. Orang tuanya mengatakan, jilbab hanya busana orang Arab. Niar sendiri, masih perlu waktu. Batinnya sering kali bermonolog. Berdebat. Mempertengkarkan kesiapan dirinya dan pendapat orang tuanya.

***

Itu kisah saya (Niar) waktu kelas 2 SMA,  25 tahun yang lalu. Akhirnya saya paham setelah bertahun-tahun kemudian bahwa ketika itu saya berada di lingkungan yang lagi bergairah berdakwah. Mereka yang berdakwah masih muda-muda. Wajar kalau masih salah strategi dan salah kata. Tapi tak bisa saya pungkiri, rasa tak enak kerap muncul karena dicap sebagai pendosa. Beruntung Allah memberikan rahmat-Nya. Saya berjilbab pada tanggal 17 Maret 1994. Namun kemudian saya dapati, dalam dunia para jilbabers, ada sebagian yang bikin “kasta-kasta” lagi. Antara “jilbab besar” dan “jilbab kecil”. Akibatnya, ada yang merasa tersisih. Ada pula yang merasa lebih baik daripada yang lain.

Sumber: henryharveybooks.com
Situasi seperti itu masih terjadi hingga sekarang. Secara tak sadar, muslimah yang berjilbab menyakiti hati saudari-saudari muslimah yang tak berjilbab. Jangankan hujatan terang-terangan, terkadang candaan atau sindiran saja bisa menyakiti hati.

“Kenapa sih belum pakai juga? Tunggu apa lagi?”
“Beban hidupmu akan lebih ringan kalau kau berjilbab!”
Dan lain-lain.

Ucapan yang ringan diucapkan tapi efeknya bisa seperti meninggalkan bekas paku yang dipalu-palukan ke dinding!

Bukankah, untuk mengajak kepada kebaikan selayaknyalah menggunakan cara-cara yang baik?
Seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Wabishah bin Ma‘bad berkunjung kepada Nabi, lalu beliau menyapanya dengan bersabda,
“Engkau datang menanyakan kebaikan?”
“Benar, wahai Rasul,” jawab Wabishah.
“Tanyalah hatimu (istafti qalbak)! Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa dan tentram terhadap hati. Adapun dosa adalah yang mengacaukan dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa.” (HR Ahmad dan ad-Darimi)

Okelah kalau mengajak sesama muslimah untuk berjilbab itu bagian dari dakwah. Tapi sebaiknya dilakukan dengan hati-hati. Kita tak pernah tahu ada apa di balik kesulitan saudari-saudari kita. Kita tak mengerti. Yang paling indah adalah, melakukannya dengan contoh dari perilaku. Belum tentu cara penyampaian kita diterima dengan senang hati dan langsung dilakukan oleh saudari kita. Kalau saudari kita justru jengkel, sakit hati, dan makin jauh dari berjilbab, apa kira-kira tak bertambah catatan dosa kita? Bukankan segala sesuatunya butuh proses? Lalu, mengapa tak kita biarkan proses itu berlangsung pada saudari kita?

Yuk, jadi muslimah yang merdeka dari ketakpedulian kepada perasaan sesama muslimah. Menebar kebaikan dengan hikmah.
Bagaikan menarik seutas rambut dari dalam tepung, tanpa menyerakkan butiran tepungnya.
Bukankah itu akan lebih indah?
Kareha tak ada yang merasa gerah
Dan terjajah?

Makassar, 24 Agustus 2015

#BloggerMuslimah
#GerakanMenujuSholehah

BW Spesial Blogger Muslimah








Share :

27 Komentar di "Menjadi Muslimah yang Merdeka dari Ketakpedulian pada Perasaan Saudarinya"

  1. bagaimanapun dakwah musti jalan ya mak biarpun masih ada kurangnya di sana-sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Harapan saya, dakwah yang disampaikan bisa lebih hati2. Tidak terjebak kepada perasaan merasa benar dan baik sendiri.

      Delete
  2. Setuju mbak. Mengajak kepada kebaikan tapi caranya salah malah akan berdampak tidak baik.

    ReplyDelete
  3. nasihat yang baik, mengingatkan pada aktivis dakwah agar memperhatikan perasaan saudaranya. niat baik memang harus disertai teknik yang tepat agar tepat sasaran pula... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebab kalau tekniknya tidak tepat, sia2, kan Mbak? Kalau nuang air ke dalam botol dan botolnya goyang terus, mana bisa masuk airnya :D

      Delete
  4. Saya juga pernah ngalamin hal seperti ini, mak Niar. Dulu sma sering nggak dianggap sama kelompok jilbab lebar, padahal saya sudah berjilbab. Saya tidak dekat dengan mereka, kecuali sebagian kecil. Saya nggak mau memanjangkan dan melebarkan jilbab hanya untuk diakui oleh kelompok jilbab lebar, atau memodiskan jilbab dan memakai baju panjang dan cantik warna pastel supaya bisa bergaul dengan para hijaber syar'i. Pengelompokan2 seperti ini memang kadang membuat saya yg jilbabnya biasa2 saja jadi gerah. Ngumpul ke sini merasa tidak diterima, ngumpul ke sana sama saja. Jadi ya gitu deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, gitu deh.

      Saya terinspirasi sebuah kejadian, Mak sampai bikin tulisan ini. Waktu itu saya lihat di wall seorang teman (dia berjilbab, panjang), ada seorang temannya (perempuan) ngomel2 begitu .... katanya tidak terima sama mereka yang berjilbab ... trus ada teman yang tidak berjilbab curhat ke saya mengenai cara seorang teman (berjilbab) berkata-kata kepadanya. Dan, saya juga dulu mengalaminya ...

      Jadi ya ... pengen sharing ini saja, mudah2an bisa jadi catatan buat anak cucu saya kelak

      Delete
  5. harusnya demikian ya mbaak terus belajar menjadi wanita muslimah yang memiliki sikap dan dedikasi sebaik mungkin :) eeh ini menurut bahasa awam saya lho :)

    ReplyDelete
  6. Nasehat yang bagus mbak.. Inspiratif pula,,
    Ohh ya kalau ada waktu mampir ke blog baru ane ya gan sebagai tanda persahabatan..

    ReplyDelete
  7. sharing yg bermanfaat sekali mak..apalagi untuk para perempuan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir ya, Mak. Semoga terutama bermanfaat untuk saya

      Delete
  8. Busana Ratu Inggris, menurut Buya HAMKA (Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), adalah pakaian yang sopan dan menutup aurat, bentuk pakaian merupakan kebudayaan atau kebiasaan suatu bangsa menurut iklim negerinya, dan dipengaruhi oleh ruang dan waktu, yang ditentukan oleh agama adalah pakaian sopan dan menghindari ‘tabarruj’.

    "orang puritan sebagai mayoritas di Muhammadiyah, Jilbab bukan sesuatu yang wajib ..."

    www.academia.edu/7216467/100_Tahun_Muhammadiyah

    "Jika mau jujur dan mau membaca, pada zaman Kalifah Umar Bin Khatab seorang budak perempuan kedapatan mengenakan jilbab. ‘Umar pun marah besar dan melarang seluruh budak perempuan untuk memakai Jilbab.

    Lebih jauh lagi pelarangan Umar itu diungkapkan lebih eksplisit dalam kitab Al-Mughni Ibnu Qudamah."

    http://mojok.co/2014/12/jilbab-rini-soemarno-dan-khalifah-umar

    "Anda pernah lihat foto istri Ahmad Dahlan, istri Hasyim Asy’ari, istri Buya Hamka, atau organisasi Aisyiyah? Mereka pakai kebaya dengan baju kurung, tidak memakai kerudung yang menutup semua rambut, atau pakai tapi sebagian.

    Begitulah istri-istri para kiai besar kita. Apa kira-kira mereka tidak tahu hukumnya wanita berjilbab? Pasti tahu.

    Sebagaimana diketahui, soal pakaian wanita muslimah, para ulama berbeda pendapat setidaknya ada tiga pandangan.

    Pertama, seluruh anggota badan adalah aurat yang mesti ditutupi.

    Kedua, kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

    Ketiga, cukup dengan pakaian terhormat."

    http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,61063-lang,id-c,kolom-t,Quraish+Shihab+dan+Islam+Nusantara-.phpx

    "... di kalangan jumhur ulama -- ulama arus utama -- masih terdapat khilafiyah, perbedaan pendapat tentang apakah rambut perempuan itu 'aurat'.

    Banyak ulama memandang rambut sebagai aurat sehingga perlu ditutup.

    Tapi banyak pula ulama yang berpendapat rambut bukan aurat sehingga tak perlu ditutupi.

    Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab."

    http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,48516-lang,id-c,kolom-t,Polwan+Cantik+dengan+Berjilbab-.phpx

    Kerudung dalam Tradisi Yahudi & Kristen

    "bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja.

    Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

    http://mediaumat.com/kristologi/1901-41-kerudung-dalam-tradisi-yahudi-a-kristen.html

    "KH. Agus Salim, dalam Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1925 di Yogyakarta menyampaikan ceramah berjudul Tentang Pemakaian Kerudung dan Pemisahan Perempuan

    Tindakan itu mereka anggap sebagai ajaran Islam, padahal, menurut Salim, praktek tersebut adalah tradisi Arab dimana praktek yang sama dilakukan oleh Agama Nasrani maupun Yahudi."

    http://www.komnasperempuan.or.id/2010/04/gerakan-perempuan-dalam-pembaruan-pemikiran-islam-di-indonesia

    Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:

    1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
    2. Menganggap pasti (Qhat'i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
    3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).

    -Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013.

    http://www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas tanggapannya saudara ...

      Setiap orang akan mempertanggung jawabkan pilihannya masing-masing ^^

      Delete
  9. Hhhh, bacanya jd narik napas. Rada berkaca-kaca hehe. Saya terkesan sama kalimat ini: Situasi seperti itu masih terjadi hingga sekarang. Secara tak sadar, muslimah yang berjilbab menyakiti hati saudari-saudari muslimah yang tak berjilbab. Jangankan hujatan terang-terangan, terkadang candaan atau sindiran saja bisa menyakiti hati.

    Ya, tugas kita bukan menyakiti tapi mengajak menuju kebaikan dgn cara yg ahsan. Jazakillah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya masih melihat dan mendengar kejadian serupa, Mbak Via.
      Bagaimana bisa menembus hati kalau cara penyampaiannya tidak enak buat orang yang didakwahi -_-

      Delete
  10. tulisan yang bermanfaat :)))

    http://sastraananta.blogspot.com/2015/08/peluang-keuntungan-bernama-investasi.html

    ReplyDelete
  11. I know exactly how it feels...tapi setuju, stop judging and you will definitely live a better life :)

    ReplyDelete
  12. Terima kasih sudah memeriahkan BW Spesial ukhti

    ReplyDelete
  13. keren kak..kadang saking semangatnya mengajak teman2, kita tidak sengaja ternyata telah menyakiti hati mereka.

    ReplyDelete
  14. berikut kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31):

    'Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,

    "Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!"

    Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

    Kesopanan Iman

    Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur'an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?

    Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur'an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?

    Al-Qur'an bukan buku mode!

    Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.

    Sehingga kalau misalnya perempuan Indonesia, karena harus gelombang zaman, berangsur atau bercepat menukar kebaya dengan kain batiknya dengan yurk dan gaun secara Barat, sebagaimana yang telah merata sekarang ini, Islam tidaklah hendak mencampurinya.

    Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam, dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.

    Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islam.'

    (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015)

    MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA

    Pendiri/Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA
    mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html

    Hujjatul Islam: Buya HAMKA
    republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/12/m2clyh-hujjatul-islam-buya-hamka-ulama-besar-dan-penulis-andal-1

    Biografi Ulama Besar: HAMKA
    muhammadiyah.or.id/id/artikel-biografi-pujangga-ulama-besar-hamka--detail-21.html

    Mantan Menteri Agama H. A. Mukti Ali mengatakan, "Berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri."

    kemenag.go.id/file/dokumen/HAMKA.pdf

    "Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib."

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

    "Antara Syari'ah dan Fiqh

    (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat'i dan ini Syari'ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)

    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat.

    Nah, masalahnya apakah paha lelaki itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Apakah rambut wanita itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Para ulama berbeda dalam menjawabnya."

    *Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

    luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

    'Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an selama hatimu bersepakat, maka apabila berselisih dalam memahaminya, maka bubarlah kamu!" (jangan sampai memperuncing perselisihannya).' -Imam Bukhari Kitab ke-66 Bab ke-37: Bacalah oleh kalian Al-Qur'an yang dapat menyatukan hati-hati kalian.

    *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai Salafi Wahabi (yang notabene identik dengan Arab Saudi). "Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama" #HAMKA #MenolakLupa

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^