Ekspektasi untuk Komika Lokal

Sudah lama saya lihat stand up comedy, pada film-film Amerika. Kira-kira tahun 90-an. Hanya saja waktu itu saya belum tahu kalau itu namanya stand up comedy. Saya mengingatnya sebagai acara yang aneh. Ada seseorang menjadi public speaker, menceritakan sesuatu dan sesekali membuat audiensnya tertawa tetapi saya tidak mengerti apanya yang lucu padahal saya jelas-jelas paham dengan teks berbahasa Indonesia yang ditampilkan. Belakangan baru saya mengerti, mengapa saya tidak mengerti di mana letak kelucuannya, adalah karena adanya perbedaan budaya. Yang dibawakan stand up comedian di film-film itu humor khas Amerika, jelas saja saya tidak mengerti karena tak memahami budaya dan cara berpikir orang Amerika.

Saya tahu istilah stand up comedy sejak dipopulerkan oleh Kompas TV, sejak tahun 2011 pada kompetisi bertajuk Stand Up Comedy Indonesia (SUCI). Waktu itu saya nonton hampir semua penampilan finalisnya (di sesi 1). Salut sekali dengan penyampaian komedi dengan cerdas ala SUCI ini. Berbeda sekali dengan kebanyakan acara lawak di televisi yang kebanyakan suka menampilkan saling ejek/cela, adegan jatuh, dan memodifikasi tampilan fisik yang dipaksakan sekali supaya terkesan lucu (padahal tidak).

Lakukan yang terbaik. Nanti kau akan menuai apa yang kau tanam sekarang.
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sumber: http://www.brainyquote.com/
Komika (pelaku stand up comedy) harus sudah punya konsep lawakan yang jelas dan terstruktur. Ada penilaian juri berdasarkan konsep dan respon audiens. Raditya Dika selaku juri sering memberi masukan mengenai hasil penampilan para komika. Sebelum tampil, mereka mendapatkan pembekalan yang memadai mengenai konten lawakan dan teknik membawakannya.

Boleh dibilang, keinginan saya untuk mendapatkan hiburan berupa komedi cerdas di televisi terpuaskan dengan adanya pentolan-pentolan ajang SUCI ini. Mereka keren-keren. Nama-nama para jawara SUCI 1 pun menjadi daftar artis Indonesia yang patut diperhitungkan kapabilitasnya menurut saya. Ada Ryan Adriandhy yang mungil tapi bisa berewokan, ada Ihsan Nur Akbar yang tak bisa menyembunyikan medhok-nya, dan ada Ernest Prakasa yang kerap membawakan humor bertema etnis China dengan cara yang elegan.

Kemudian, via  SUCI 2, nama-nama berikut ini juga menjadi terkenal: Ge Pamungkas yang bisa berbicara dengan teramat cepat, Gilang Bhaskara yang rada kalem tapi lucu, dan Kemal Palevi yang terkenal dengan leluconnya yang absurd tapi unik menggelitik.

Selanjutnya … eh, saya hanya (cukup) mengenali mereka berenam itu. Tapi ingatan saya tentang kemampuan mereka membuat saya memiliki ekspektasi dan apresiasi tertentu pada orang-orang yang mengaku sebagai komika.

Hingga saat menghadiri acara Opening Anniversary sebuah mal dan disuguhi hiburan ala SUCI beberapa waktu yang lalu, ekspektasi yang sebanding dengan apresiasi saya tentang komika terpelanting dan berserakan tak karuan.

Saya terhenyak menyaksikan penampilan dua orang komika di acara itu. Bila hanya tergagap akibat nge-blank, saya maklum. Tapi ini bukan sekadar nge-blank. Konten lawakan mereka membuat aneka perasaan tak enak dalam diri saya teraduk-aduk.

Ada yang melibatkan  salah seorang penonton secara personal dengan menggunakan bahasa yang amat tidak sopan (menyamakannya dengan “boneka monye’-monye’”) dan kedua komika itu menggunakan humor jorok. Sayang sekali, mereka membuat saya dan kawan-kawan yang bersama dengan saya tertunduk dengan perasaan kacau-balau. Saya ingin … ingin sekali menghargai mereka dengan memberikan tepuk tangan tapi sayang, apa yang saya saksikan tak bisa menggerakkan hati saya untuk melakukannya.

Wahai komika lokal, siapa pun Anda, di daerah mana pun Anda, ketahuilah bahwa Anda bisa menjadi identitas daerah Anda. Saya saja penduduk lokal, saat menonton performance dari dua orang komika itu langsung beranggapan, “Aih, seperti inikah komika Makassar?” Nah, bagaimana pula kalau yang menyaksikannya orang luar?

Sumber: http://www.brainyquote.com
Mohon dengan sangat, perhatikanlah hal-hal berikut sebelum tampil:
  • Konsep lawakan agar disupervisi oleh komika yang lebih senior.
  • Seperti komika profesional yang sering tampil di tivi nasional, milikilah daftar acuan berbagai kemungkinan di lapangan yang bisa saja terjadi mendadak dan bagaimana mengatasinya.
  • Jauhi hal-hal yang berbau SARA kecuali kalau yakin tak ada yang tersinggung mendengarnya.
  • Perhatikan audiens. Bila beragam, ada ibu-ibu, bapak-bapak, gadis-gadis berkerudung yang menjaga ketat auratnya, apalagi ada anak-anak, jangan sekali-sekali melontarkan joke yang bernada jorok kecuali kalau Anda bisa menyelipkannya dengan teramat halus sehingga penonton tak menyadari itu jorok.
  • Gugup atau gagap, tak menjadi masalah bagi penonton. Penonton bisa memberikanmaaf tapi jangan alihkan kegugupan dengan mengeluarkan kalimat yang menyerang pribadi seseorang. Ingat kasus Olga yang dituntut oleh salah seorang audiensnya? Jangan sampai Anda mengalaminya juga.
  • Jangan menyebutkan sebuah lembaga dengan eksplisit lalu ada humor jorok di dalamnya.
  • Perhatikan reaksi penonton. Kalau ada beberapa yang bereaksi tak sesuai harapan, jangan paksakan lelucon yang sedang Anda lontarkan sampai selesai, apalagi dengan menambah-nambahinya dengan lelucon sejenis.
  • Kalau rekan Anda tak berhasil membuat hadirin tertawa, cermati kesalahannya dan jangan lakukan kesalahan yang sama.
  • Asah kepekaan dalam menyamakan persepsi tentang hal-hal yang tabu/jorok bagi audiens. Tak semua orang suka lelucon yang tabu/jorok.
Dengan penuh kerendahan hati, saya sampaikan bahwa saya tidak sedang menjelek-jelekkan pihak mana pun. Tulisan ini saya buat karena saya ingin para komika lokal tampil dengan elegan, seperti kesan yang telah ditancapkan oleh komika-komika top yang saya sebutkan nama-namanya di atas. Mari sama-sama berbenah diri untuk turut mengusung citra lokal yang baik, baik itu di mata sesama warga lokal dan bila memungkinkan – juga dalam skala nasional.

Makassar, 3 Oktober 2014


Share :

27 Komentar di "Ekspektasi untuk Komika Lokal"

  1. Walaupun untuk lucu-lucuan rasanya nggak lucu kalau merendahkan orang lain ya mbak Niar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi mereka tidak merasa merendahkan Mbak Ika, tapi itulah yang terlihat. Mereka perlu tahu bahwa apa maksud mereka, tidak seperti itu yang ditangkap orang.

      Delete
  2. komika nya cabe cabean ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh sampe sekarang saya ndak ngeh sama istilah itu ... :)
      Apa artinya ya?

      Delete
  3. Saya malah sering menemukan hal yang seharusnya tidak jadi bahan tertawaan.. kok jadi miris ya ketika komika itu ingin membuat oranglain tertawa dengan membuat rendah suatu hal, meskipun tentang dirinya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. NAh .... benar sekali ..... harusnya ngeh dengan apa2 yang memang sehat untuk ditertawakan dan apa yang tidak ya Pita ?

      Delete
  4. waduh.. itu sih sudah mencoreng ya mak..
    saya suka nonton stand up comedy, karena lawakannya memang cerdas, tapi kalo ada kejadian kayak gitu, itu sih malu2in ya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yakin, orang bisa berubah, menjadi lebih baik.
      Mudah2an .... ada perubahan, Mak ...

      Delete
  5. Sepakat, Kak. Konten humornya waktu itu kayaknya terlalu dewasa sedangkan di sana banyak audiens yang masih (jauh) di bawah umur. (Iyek, nonton ka' juga). Saya juga suka nonton stand up comedy, entah komikanya ndak dikasih tau audiens yang datang umurnya berapa atau tidak, tapi kayaknya memang ada bawaan dari komikanya sendiri yang suka humor dengan konten begitu. Kalau ndak salah komika ke dua cerita kalau dia itu tentor dan pernah berhumor dengan gaya begitu ke siswanya yang usia SMP, kalau ndak salah sih :)
    Tulisannya bagus, Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih komentarnya, Adityar .... mudah2an mereka belajar agar menjadi lebih baik ya :)

      Saya percaya orang bisa berubah. Dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Mudah2an pengalaman bisa mengajarkan mereka untk menjadi lebih baik.

      Delete
    2. Iya, Kak. Mungkin karena mereka masih komika junior masih muda-muda *aduh berasa jadi tua ka' langsung* *uhuk* uhuk*

      Delete
  6. senengnya sama stand up comedy itu, lawakannya kadang isinya kritikan makjleb buat pemerintah. ga senengnya ya seperti -kata- yang banyak tante ulang, kadang lawakannya jorok.

    ReplyDelete
  7. aku cuma bisa nonton di yutub
    lama lama kok ngebosenin tuh kalo kita liat beberapa penampilan seseorang di event berbeda. seringkali mengulang ulang guyonannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooh begitu ya ...... mungkin acaranya terlalu padat kali ya?

      Delete
  8. Bila saya perhatikan ...
    Humor yang jorok tidak mendapat tempat di ajang SUCI ...
    Pemirsa ... (seperti juga Niar dan saya ...) tidak menyukai humor yang porno dan (maaf) berselera rendah ...

    BTW ... kemarin di SUCI 4 ada komika wanita dari Makassar ... namanya Sri ...
    Lucu dan khas ... sayang langkahnya terhenti di beberapa penampilan awal

    salam saya Niar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo lomba SUCI di tivi itu sesekali ada yang nyerempet juga, Om .. tapi haluuuuus sekali penyampaiannya. Nah kalo yang ditonton langsung ini yang suka seenaknya saja pdahal tidak semua penontonnya nyaman/suka/cocok.

      Ah iya .... suami saya yang masih mengikuti SUCI di Kompas TV juga bilang, om. Tapi saya sendiri belum pernah nontn Sri

      Delete
  9. paling suka nonton standup comedy daripada nonton talkshow atau lucu-lucuan gak jelas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang di tivi, lebih baik nonton stand up comedy :)

      Delete
  10. saya sempet suka sama sri yang dari makassar. sayangnya harus terhenti di 10 atau 8 besar kayaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah sayang saya malah tidak nonton -_-
      Jadi penasaran sama Sri, mudah2an bisa menonton penampilannya, live

      Delete
  11. masing-masing komika, akhir-akhir ini memang muncul dengan membawa budaya dari daerah mereka. salut juga. mempromosikan budaya sendiri pada orang dalam negeri. biar tidak buta.

    ReplyDelete
  12. Hmmmm... saya sampe sekarang masih belum bisa menikmati stand up comedy, Mak. Entahlah kenapa.
    Ah, mungkin selera humor saya memang buruk .__.

    ReplyDelete
  13. Lucu itu bukan merendahkan ya mak

    ReplyDelete
  14. Saya nonton acara Tv itu melalui youtube mbak... renyah memang ya, kesannya spontan...
    Tapi kalau yg jorok dan menyinggung memang tidak menyenangkan untuk ditonton.

    ReplyDelete
  15. Aku pernah nonton sekali tapi sayangnya sama sekali gak berkesan.
    Menurutku mereka tetap sama aja dengan pelawak lain jaman sekarang.

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^