Sekolah Pengembangan Diri Terbaik

FTUH, dari lantai 3 (difoto April 2014)
Hasil penelitian Employment Research Institute tahun2005 mengungkapkan hard skill hanya berkontribusi sebesar 18% terhadap kesuksesan seseorang. Sisanya 82% disumbangkan oleh kemampuan soft skill. Sementara itu, survei National Association of Colleges and Employers pada tahun 2002 di Amerika Serikat dengan subyek penelitian 457 pemimpin perusahaan menyatakan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukanlah hard skill yang dianggap penting di dunia kerja. Jauh lebih penting soft skill yang antara lain berupa kemampuan komunikasi, kejujuran, kerja sama, motivasi, adaptasi, dan relasi interpersonal lain dengan orientasi nilai yang menjunjung kinerja yang efektif[1].

Gedung rektorat
Sumber gambar: a.tuwo.tripod.com
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Inggris, Amerika, dan Kanada, ada 23 atribut soft skill yang dominan di lapangan kerja[2]. Berikut urutannya berdasarkan prioritas kepentingan:
  1. Inisiatif
  2. Etika/integritas
  3. Berpikir kritis
  4. Kemauan belajar
  5. Komitmen
  6. Motivasi
  7. Bersemangat
  8. Dapat diandalkan
  9. Komunikasi lisan
  10. Kreatif
  11. Kemampuan analitis
  12. Dapat mengatasi stres
  13. Manajemen diri
  14. Kemampuan menyelesaikan masalah/persoalan
  15. Dapat meringkas
  16. Dapat bekerja sama
  17. Fleksibel
  18. Mampu bekerja dalam tim
  19. Mandiri
  20. Mendengarkan
  21. Tangguh
  22. Berargumentasi logis
  23. Manajemen waktu
Foto-foto kegiatan Program Pengembangan Diri dalam
album kenangan
Ke-23 soft skill tersebut bukan hanya berguna di dunia kerja tapi juga di rimba belantara kehidupan nyata. Semuanya merupakan keterampilan hidup yang sebaiknya dimiliki oleh semua orang namun sayangnya, tidak diajarkan di sekolah-sekolah formal di negara kita.

Lalu bagaimana caranya mendapatkannya? Dari pengalaman, tentunya. Saya beruntung mulai mempelajarinya dengan sungguh-sungguh ketika kuliah di FT UNHAS. Eh, tapi saya bukan mendapatkannya melalui kuliah lho, saya mendapatkannya melalui berbagai kegiatan ketika aktif di Himpunan Mahasiswa Elektro.

Saya menyebutnya sebagai proses pengembangan diri. Waktu itu saya suka mengikuti diskusi. Walau kadang-kadang tidak mengerti materi yang dibahas, saya suka memperhatikan cara para senior/kawan berargumen. Saya mencoba mencari tahu bagaimana orang-orang bisa sepercaya diri mereka berbicara di depan forum sembari bertanya-tanya apa yang membuat mereka sedemikian percaya diri, apakah karena mereka yakin dengan dasar pemikiran yang mereka gunakan ataukah mereka asal ceplos saja, hanya berbekal keberanian semata? Lalu bagaimana mencari dasar pemikiran yang kuat?

Bangku itu sudah ada di situ sejak saya kuliah,
sekarang masih ada (di jurusan Elektro FTUH)
Saya kagum sama orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka, apalagi yang berani berdebat, terlepas dari mereka punya argumen yang logis atau tidak karena saya tak seperti mereka. Walau banyak tanya menggelantung di benak, semuanya tersangkut di tenggorokan. Tak bisa keluar sama sekali.

Yang membuat saya separah itu selain karena tak terbiasa mengeluarkan pendapat dengan bebas sejak kecil, yaitu: saya takut salah bicara dan takut argumen saya kurang kuat sehingga mudah dipatahkan.

UNHAS sekarang rimbun dan segar
Karena menyadari kekurangan diri, saya ingin sekali mengasah kemampuan bicara dan saya melihat HME bisa dijadikan sebagai tempat mengasah diri. Selain itu, terlibat dalam kegiatan-kegiatan di HME ternyata mendatangkan pengalaman baru yang menarik. Seperti semacam refreshing dari jadwal kuliah yang mulai terasa monoton. Banyak pengetahuan baru yang saya peroleh. Para senior ternyata suka juga mendiskusikan keadaan ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik di daerah kami/Indonesia. Saya pun mulai haus pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah saya dapatkan di jenjang pendidikan formal.

Terbiasa menggunakan logika, kreatif, dan aktif dalam berkegiatan menjadi makin menyenangkan. Saya makin tertarik pada kegiatan-kegiatan pengembangan diri. Saya belajar dalam sebuah organisasi ada pengkaderan, di antaranya untuk mewariskan budaya organisasi dan pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat.

Foto kenangan bina akrab (salah satu
program pengembangan diri) angkatan 94
OSPEK Fakultas Teknik yang menjadi momok bagi banyak orang bahkan memiliki format yang jelas. Mulai dari tujuan sampai pelaksanaannya. Semua kegiatan pengembangan diri/pengkaderan juga mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan yang ditetapkan bersifat filosofis, menyentuh kedalaman sisi kemanusiaan seseorang dan pada dasarnya memang dibutuhkan untuk pengembangan diri.

Saya belajar berbicara di depan forum melalui kegiatan Program Pengembangan Diri  (PPD) Paket A yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru (maba). Berbagai materi kami siapkan untuk para maba. Materi ini mencakup pengetahuan-pengetahuan di luar materi kuliah, seperti kepemimpinan dan teknik negosiasi dan diplomasi. Saya sering kebagian tugas menyampaikan materi pembukuan dan administrasi. Pernah pula saya mendapat tugas membawa materi berpikir kreatif dan psikologi populer. Kami serius mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan materi yang akan kami bawakan. Saya sampai membeli buku-buku administrasi, persuratan, pembukuan, dan psikologi.

Saya belajar dari para senior bagaimana merancang kegiatan seperti seminar dan PPD. Berkali-kali saya menjadi panitia seminar dan menerapkan langkah membuat skenario acara. Juga terlibat dalam pembuatan term of reference untuk kegiatan-kegiatan pengkaderan.

Saya terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan mulai sejak masuk kuliah (tahun 1992) sampai lulus kuliah (tahun 1997). Setelah wisuda saya sempat mengisi materi Program Pengembangan Diri untuk angkatan 1997. Bahkan setelah menikah, saya pernah satu kali memberikan materi psikologi populer sekisar tahun 2002 – 2003.

Fakultas Teknik, dari area parkir
Betapa bersyukurnya saya pernah terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan di HME saat kuliah dulu, tempat mencari pengalaman organisasi terbaik. Oya, saya belum cerita ya. Dalam berorganisasi, HME punya AD/ART sendiri sebagai badan eksekutif. Ada pula badan legislatifnya DMME/BMME (kira-kira yang fungsinya seperti DPR/MPR dalam negara kita) yang memiliki aturan sendiri. Dalam pemilihan ketua berserta jajaran pengurus HME dan DMME/BMME ada mekanismenya tersendiri. Semua dasar “hukum” dan mekanisme punya dasar pemikiran logis dan mirip dengan aturan dalam negara kita.

Antara internal HME dan DMME/BMME juga punya aturan tersendiri dalam berhubungan dengan organisasi kemahasiswaan di lingkup fakultas, universitas, hingga lintas universitas. Seperti layaknya pengaturan dalam sebuah negara kecil.

Makin lama, saya semakin tertarik dengan topik pengembangan diri, psikologi populer, dan pendidikan praktis. Hingga kini saya masih tertarik dengan topik-topik tersebut. Saya jadi makin jauh saja dari pendidikan S1 saya. Tapi itulah kini berkahnya bagi saya.  Kesukaan saya itu menjadi warna dalam tulisan-tulisan saya kini dan saya yakini sebagai penyumbang terbesar pada gaya menulis saya. Di samping itu, juga menjadi bekal pengetahuan saya dalam menghadapi berbagai permasalah dalam rimba belantara kehidupan ini.

Makassar, 19 September 2014




[1] Dikutip dari buku Public Speaking Mastery yang ditulis oleh Ongky Hojanto, diterbitkan oleh GPU, halaman 18 - 19
[2] Ibid, halaman 21


Catatan:

  • Terima kasih kepada senior, yunior, dan kawan-kawan di jurusan Elektro FTUH. Saya belajar banyak dari kalian.
  • Khusus urusan public speaking, setiap saat saya seperti te-reset, gagap kalau harus kembali berbicara di depan orang banyak hehehe.


Tulisan ini diikutkan GA Sekolah Impian



Share :

19 Komentar di "Sekolah Pengembangan Diri Terbaik"

  1. Replies
    1. Makasih Mbak Nu .. sukses juga buat Mbak Nunu ya

      Delete
  2. ya ampun,berarti bangku itu bersejarah sekali ya mbk hehe

    ReplyDelete
  3. Saya waktu kuliah sama sekali nggak ikut berorganisasi apa-apa Mbak. Saya ambil FKIP, sudah passion saya buat mengajar, jadi berdiri di depan orang banyak, sudah terasah di situ hehehe...

    Gutlak yah Mbak buat GA nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di organisasi, saya belajar bukan hanya ttg berbicara di depan orang banyak, Mbak. ternyata ke-23 soft skill yang saya tulis di atas (yang berdasarkan penelitian itu) bisa dipelajari dari organisasi :)

      Gutlak juga buat Mbak Oci :)

      Delete
  4. Tapi sayang kanda. Kondisi birokrasi di FT UH sekarang terlalu kejam :( mahasiswa seperti di tuntut penuh untuk akademik. Mengikuti senior di tamalanrea seperti momok yang menakutkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah ada yunior yang sampai ke rumah maya saya. makasih ya sudah membaca.

      Saya tak tahu kondisi HME sekarang. Tapi dulu sering juga ada konflik dengan pemegang wewenang birokrasi. Biasanya yang turun tangan adalah mereka-mereka yang punya kemampuan negosiasi bagus. Biasanya sih karena perbedaan sudut pandang.

      Mudah2an adik2 tetap belajar khusus untuk mengasah soft skill ya :))

      Delete
  5. Replies
    1. Tidak masalah, yang penting tdk berhenti belajar. Banyak juga sarjana yang "tidak pernah belajar", ndableknya sama kayak anak kecil :))

      Delete
  6. emang aktif berorganisasi adalah bagian dari 'sekolah' kehidupan ya mak. sukses GAnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mak Ida ... sukses juga buat Mak Ida ^^

      Delete
  7. Soft skill yang NIar sebutkan diatas memang sangat penting sekali ...
    di dalam dunia pekerjaan ini disebut sebagai "kompetensi"
    satu dua tahun yang lalu ... ketika saya masih bekerja di suatu perusahaan ... pekerjaan saya ya mengurusi pengembangan soft skill atau kompetensi dari para karyawan ...
    dan ini semua bisa dilakukan bukan dengan training di dalam kelas ... tetapi melalui pengembangan langsung di lapangan di bawah supervisi atasannya ... Jadi jika ada karyawan yang kurang kompetensinya ... sedikit banyak yang ditanya adalah atasannya ...

    Salam saya Niar
    (19/9 : 15)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Om, dalam proses penyeleksian pegawai, yang banyak dinilai adalah kompetensi calon pegawai. Sy pernah mengikuti kegiatan semacam training untuk menilai kompetensi calon pegawai. Dan memang, yang dominan bukannya hard skill tapi soft skill ...

      Makasih sudah berkunjung, Om. Senang sekali dikunjungi oleh seorang trainer ... :)

      Delete
  8. Pengalaman yang sangat menarik. Saya ingat pernah jadi fasilitator & instruktur dalam PPD FT-UH (eh..siapa tahu Niar pernah jadi salah satu peserta dimana saya aktif didalamnya). Senang sekali program ini memberikan manfaat bagi pengembangan diri di Masa Depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin waktu PPD-nya angkatan setelah saya, Kak. Alhamdulillah kalau bagi saya, bermanfaat sekali. Entah dengan teman2 lainnya :)

      Delete
  9. semoga sukses GA nya mak
    iya, soft skill memang penting. tidak hanya akademik saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin .. sukses juga buat Mak Lathifah ya :)

      Delete
  10. pengembangan diri kini sangat diperlukan terutama bagi generasi penerus kita yang masih kecil agar semakin berani, kreatif dan iinovatif, semoga sukses terus

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^