Jalan Alternatif Agar Perempuan Lebih Lantang Bersuara


Saya memilih berhati-hati untuk terlibat dalam tema perempuan. Takut terikut arus yang kebablasan dalam menuntut penyetaraan jender. Namun saat membaca SMS berisi undangan workshop menulis yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), saya tak pikir panjang lagi.

Saya harus mengambil kesempatan ini. Setahu saya yang  tergabung dalam AJI adalah para jurnalis idealis. Maka saya berpikir, tak mungkinlah AJI menyeru kepada tuntutan penyetaraan jender yang kebablasan.

Awalnya undangan untuk saya itu ditujukan kepada komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar di mana saya bergabung. Namun mengingat saya juga tergabung ke dalam komunitas yang anggotanya perempuan semua: Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB), maka saya mencoba menanyakan apakah masih ada satu jatah kursi lagi untuk KEB.

Ruang Toraja, hotel Grand Imawan
IIDN Makassar sudah mulai dikenal di Makassar, KEB belum. Saya merasa perlu mengenalkan KEB kepada khalayak Makassar mengingat teman-teman di KEB eksis dan aktif menyuarakan hal-hal positif tentang perempuan di blog mereka masing-masing.

Panitia memberikan satu kursi lagi. Maka atas persetujuan mak Mira Sahid – sang pendiri KEB, saya mewakili KEB dalam workshop  ini. Sementara IIDN Makassar diwakili oleh teman saya bu Zul Khaeriyah.

Workshop yang dipersiapkan dengan amat serius ini ternyata dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama berlangsung dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Panitia menyediakan fasilitas berupa kamar hotel untuk semua peserta. Sayang saya tak bisa nginap karena tak pernah meninggalkan anak-anak selama itu. Untungnya panitia membolehkan saya pulang asalkan keesokan harinya tak datang terlambat.

Mengapa Workshop Ini Penting

Materi pertama adalah Brain Storming yang dibawakan oleh  Pak Yusuf AR – wartawan senior harian Fajar. Berikut ulasan materinya:

Fungsi media, sebagaimana yang termaktub dalam pasal 33 UU nomor 40 tahun 1999 adalah sebagai: sarana transformasi informasi, media hiburan, media pendidikan, kontrol sosial, dan lembaga ekonomi tak berjalan maksimal.

Saat ini yang menonjol dari media adalah fungsinya sebagai lembaga ekonomi, yang penting bagaimana media itu laku. Telah terjadi ketimpangan, dalam hal ini. Media seharusnya berperan dalam menciptakan keterbukaan di bidang informasi, penegakan hak-hak sipil,  dan supremasi hukum yang mencakup seluruh aspek, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Berita  media sebanyak 30-50% menyangkut perempuan. Namun umumnya mengenai dua tema besar, yaitu: kekerasan dan sensualitas. Isu perempuan masih menjadi isu pinggiran, di mana 59% dr pemberitaan, atau 715 berita, diletakkan pada rubrik sekunder. Sisanya berada di rubrik primer (477 berita), 10 berita di rubrik tambahan dan 8 berita di rubrik khusus perempuan. (dari sebuah penelitian tahun 2010 – 2011).

Penelitian ini menunjukkan bahwa berita perspektif perempuan ada. Di sejumlah media kualitas berita tentang perempuan mulai tampak baik. Ini ditunjukkan oleh kepatuhan jurnalis mematuhi kode etik jurnalistik. Khususnya yang mengatur mengenai IDENTITAS.

Ketua AJI Makassar, Gunawan Mashar (kanan) membuka workshop
Walaupun demikian, sesekali ada media yang kebablasan, misalnya tidak menutupi identitas korban pelecehan seksual yang diberitakan. Atau masih menampilkan gambar perempuan berpakaian minim. Atau memberitakan hal-hal terkait korban pelecehan seksual dengan kata-kata yang tidak baik (seperti “digagahi” dan “digarap” sehingga mereduksi makna informasi yang seharusnya diberitakan kepada publik).

Atas dasar semua itu, perempuan perlu lebih banyak menyuarakan tentang perempuan meski secara fisik tak terlibat dalam media main stream (Koran, TV/radio). Melalui pelatihan ini AJI memberikan alternatif wadah (secara non fisik) bagi keempatbelas komunitas yang dilatih untuk lebih lantang bersuara, mengabarkan permasalahan maupun hal-hal positif seputar perempuan dan anak di sekitar mereka.

Olehnya itu pelatihan mengenai literasi media perempuan penting diberikan untuk:
  • Meningkatkan partisipasi perempuan dalam transformasi informasi melalui media massa.
  • Mernyebarluaskan isu dan masalah perempuan agar menjadi perhatian public.
  • Menguatkan pendidikan feminisme atau wacana keadilan jender melalui media massa.
  • Menyebarluaskan kiprah perempuan di sektor publik.

Bincang-Bincang Tentang Isu Perempuan

Pak Yusuf AR sedang memberikan brain storming
Usai memberikan materi, Pak Yusuf AR menggali informasi dari para peserta mengenai isu-isu perempuan sekaligus memperkenalkan komunitasnya dan apa saja yang diakukan oleh komunitasnya.

Beberapa isu yang muncul di antaranya:
  • KPAJ (Kelompok Pencinta Anak Jalanan) belum legal. Rencana untuk melegalkan sangatlah mahal. Daripada dana yang ada “terbuang” untuk mengusahakan legalitas maka lebih baik untuk sekolah anak-anak jalanan saja. Diharapkan KPAJ bisa menjadi “virus” dan terbentuk di kampus-kampus di seantero kota.
  • Para perempuan yang tergabung dalam IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar mendapatkan ide menulis antara lain dari keluarga.  Banyak di antaranya merupakan ibu-ibu yang berpendidikan. Diharapkan bisa bekerjasama dengan AJI untuk dapat mengirimkan tulisan ke media, seperti  resensi buku, opini, dan lain-lain.
  • Penyala concern meningkatkan minat baca masyarakat, mengirim buku ke daerah tertinggal melalui donasi buku. Buku-buku dikirim ke wilayah yang di-support Indonesia Mengajar. Diharapkan ke depannya Penyala bisa bersinergi dengan lembaga lain.
  • LeMInA (Lembaga Mirta Ibu dan Anak) selama ini bergerak di lokasi kumuh dan miskin, di antaranya mengadakan kegiatan menulis dan membaca untuk anak-anak di TPA Antang.
  • Hijabers aktif dalam menghimbau para muslimah agar menyadari bahwa hijab itu tidak memberatkan dan bisa stylish. Selain itu Hijabers aktif pula dalam kegiatan-kegiatan sosial.
  • Kultur Annisa kerap mengadakan diskusi terkait isu keperempuanan. Beragam topik menjadi bahannya seperti pendidikan, dan lain-lain. Setiap bulannya Kultur Annisa menerbitkan bulletin untuk disebarkan kepada perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya.
  • Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) tak lepas dari isu diskriminasi. Diskriminasi yang dialami para penyandang disabilitas bukan hanya  dalam pendidikan. Tetapi juga dalam penerimaan PNS  dan dalam penggunaan maskapai penerbangan. Tak jarang penyandang disabilitas harus memberikan surat keterangan sakit untuk dapat menjadi penumpang pesawat terbang. Padahal mereka tidak sakit, hanya mengalami keterbatasan secara fisik. Pelecehan seksual pun mereka alami, saat berada di tempat umum misalnya ada laki-laki kurang ajar yang berusaha menyentuh mereka.
  • Srikandi Gespar  (Gerakan Perempuan Bermartabat) aktif berdonasi dan mengajar keterampilan untuk para perempuan. Tujuan memberikan keterampilan adalah agar para ibu rumahtangga bisa mandiri secara ekonomi .
  • UKM Adistya aktif dalam melakukan daur ulang sampah non organik. Sampah-sampah plastik kemasan makanan dan sabun dibuat barang-barang bernilai ekonomi, seperti tas. Saat ini UKM Adistya mengirim anggotanya untuk memberikan pelatihan sampai ke luar Sulawesi.
  • Himpunan Wanita Himagro: concern dengan lingkungan yang tercemar. Di TPA (tempat pembuangan akhir) tidak ada pemilahan sampah, semua disatukan kembali. Himpunan Wanita Himagro membuat pemilahan sampah menjadi  4 macam: kaleng, kertas, sisa makanan, dan sisa tanaman (organik).
  • Qui-Qui aktif memberikan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi perempuan melalui kegiatan merajut. Beberapa kali Qui-Qui melaksanakan kegiatan di sebuah pulau kecil dekat Makassar yang memiliki tingkat “pernikahan dini” tinggi. Setiap minggunya diadakan kegiatan merajut gratis bagi siapa saja yang mau belajar/mengajar merajut.

Lalu saya mengangkat isu apa setelah mengenalkan KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger)?

Hm, sebagian pembaca blog ini mungkin sudah bosan karena saya sudah berkali-kali menuliskan ide yang satu ini: yaitu bahwa saya tak setuju dengan anggapan sebagian orang yang menganggap ibu rumahtangga yang tidak bekerja itu lebih rendah daripada mereka yang bekerja kantoran (saya baru saja menuangkannya dalam tulisan berjudul IbuRumahtangga, Anomali dan Profesi).

Di KEB tak ada pertentangan mengenai ibu bekerja atau tidak karena kami selalu berbagi melalui tulisan dan sama-sama paham kalau para perempuan yang senang berbagi melalui tulisan di blog mereka adalah perempuan-perempuan pembelajar. Mereka merupakan perempuan yang tak berhenti belajar karena selalu ingin menyajikan tulisan terbaik di blog-blog mereka.

Cheers ^_^
Ki-ka:
Ugha (Qui-Qui), Haeriyah (Himagro), Masita (UKM Adistya),
dan ibu Sofiah (Srikandi Gespar)
Sebagian orang mungkin menganggap saya berlebihan. Sah-sah saja karena pada sebagian orang, ini bukanlah masalah. Namun anehnya, saya sering sekali mendapatkan perlakuan tak enak hanya karena saya tak bekerja kantoran. Dan kalau saya menceritakannya di beberapa grup (menulis) yang saya ikuti (dalam bentuk tulisan), ternyata bukan hanya saya lho yang mengalaminya. Mau tahu rasanya? Cukup menyakitkan karena mengarah kepada pembunuhan karater. Syukurnya saya bisa menuliskan hal ini sehingga secara perlahan apa yang saya tuliskan itu menjadi terapi bagi saya dan membuat saya lebih bisa menguasai diri.

Lalu saya mengemukakan mengenai kurangnya minat menulis pada para perempuan di Sulawesi dan Indonesia bagian timur. Dari hampir 2000 teman facebook saya, kira-kira 80 – 90 persen di antaranya perempuan penulis/blogger. Nah dari semua perempuan penulis/blogger itu kira-kira 80 – 90 persennya tinggal di pulau Jawa.

Mendengarkan hal ini, pak Yusuf mengatakan, “Nah itu tugas Ibu, bagaimana supaya minat menulis perempuan di sini meningkat!”

Hah, tugas saya? Apa daya saya, Pak?

Makassar, 25 November 2013


Bersambung ke tulisan berikutnya


Share :

25 Komentar di "Jalan Alternatif Agar Perempuan Lebih Lantang Bersuara"

  1. Walah, kalau ada yang menganggap ibu rumah tangga adalah lebih rendah dari pada ibu kantoran, apa nggak kebalik, tuh? Saya aja yang kerja di kantor harus angkat 4 jempol buat ibu-ibu yang memilih di rumah membesarkan anak-anaknya dengan tangannya sendiri.

    Sebab, kalaupun (seandainya) materi saya telah dicukupkan buat stay di ruamh aja, belom tentu sanggup secara mental dan fisik ngadepin anak sendirian (tanpa dibantu orang lain).

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesuai pilihan masing2 aja ya mbak. Ibu bekerja juga hebat pulang kantor harus kerja lagi dirumah ngurus anak sama suami

      Delete
    2. Syukurlah mak Is tidak berpikir demikian :)
      Terimakash buat supportnya ya Mak :)

      Delete
    3. Iya benar mbak Lid. Mereka hebat, pulang kantor bisa ngurus suami dan anak :)

      Delete
    4. Perempuan yang bekerja dan tidak bekerja sama hebatnya asal benar-benar tahu yang dilakukan. Pilihannya benar-benar dari hati nurani. Saya sering mengamati ibu-ibu. Baik perkotaan maupun dipedesaan mereka sambil mengasuh anak juga melakukan aktivitas ekonomi atau ada juga perempuan yang mengecap pendidikan tinggi namun mereka memilih fokus membesarkan anak.
      Saya juga mempunyai kenalan, walau ia bekerja tetap dekat dengan anak. Setiap jam istirahat kantor ia tanya jawab pelajaran dengan anaknya.
      Kita, bekerja atau tidak adalah wajah Indonesia di masa depan. Tentu saja bekerja sama dengan kaum bapak.






      Delete
    5. Komennya amat menyejukkan. Seandainya semua orang seperti Anda, tentu tak banyak yang makan rasa kecewa seperti saya :)
      Tapi begitulah manusia ya ... ada2 saja. Meski orang tak melakukan apa2 yang negatif kepadanya tega saja komen negatif kepada orang lain. Terimakasih ya dah komen :)

      Delete
  2. Masih aja ampe skr anggapan ibu rumah tangga itu ga berdaya ya mbak, sedih jdnya, akhirnya anggapan spt tu bikin minder ibu RT. Spt aku dlu waktu pertama berhenti kerja, sering ngrasa malu n minder.. Thanks God ada Blog yg bisa menghibur n nambah byk ilmu.
    Semangat menukarkan virus positif buat ibu RT di Sulawesi n seluruh indonesia mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blog bisa bikin kita lebih "bersuara" juga ya mbak :)
      Iya benar ... saya bersyukur juga bisa ngeblog. Jadi ajang berekspresi sekaligus mengaktualisasikan diri. Tidak bisa dipungkiri, saya akhirnya harus punya cara untuk aktualisasi diri ...

      Delete
  3. Wah keren sekali mak satu ini. Beruntung KEB punya mak Mugniar. Tapi jadinya malah dapat tugas ya untuk mengajak ibu2 Sulawesi makin giat menulis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung saya bisa gabung KEB Mak, seperti menemukan belahan jiwa :)

      Delete
  4. Selamat menjalankan tugas Mak, saya dukung dari sini :) Mak Mugniar pasti bisa. Insya Allah

    ReplyDelete
  5. Ayooo makkk pasti bisa !!! bersemangat!!!

    ReplyDelete
  6. apa daya? segala daya upaya maaaak....sesederhana apapun itu mak :D...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Maak hanya bisa yang sederhana, berusaha mempengaruhi lewat tulisan. Begitu saja dulu kali ya? :)

      Delete
  7. Walah, itu kalimat terakhir, jadi pengen ngekek saya, Mak. InsyaAllah, Mak Mugniar pasti bisa, kok!

    Tentang IRT, saya menikah sejak masih kuliah, dan setelah lulus hingga sekarang (sudah hampir 5 thn) nggak pernah merasakan bekerja kantoran. Entah, ya, saya kok nggak minta sama sekali. Lah ini di rumah aja nggak ngantor saya sampe kadang keteteran kok apalagi saya ngantor, ya? Hahahahahaha. :D :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ALhamdulillah saya tidak tergoda untuk ikut2an kerja kantoran Mak. Cuma memang sempat "panas" karena merasa diperakukan tidak enak. Tapi sekarang sudah baikan koq, mudah2an besok2 bisa benar2 cuek.

      Lah iya kan Mak ... masa tugas sayah? Tugas bersama gitu kan yak? :D

      Delete
  8. Saya sehati mbak dengan "pembunuhan karakter".
    Padahal karakter ibu rumah tangga kan keren banget, apalagi kerjaannya
    ^_^

    ReplyDelete
  9. Kalo saya malah bangga jadi seorang Ibu Rumah Tangga mbak. Temenku bilang hidup saya sejahtera, nggak perlu dobel capek karena harus ngurus keluarga ples harus bantu suami nyari duit juga. Padahal kalo di liat dari segi ekonomi, temen2ku malah jauh lebih makmur karena pd kerja kantoran. Yang intinya, saya jadi bersyukur mereka bisa iri berarti hidup saya lebih baik dari mereka yah :D.

    Saya dulu (waktu belum merit) udah puas kerja mbak, bertahun-tahun sejak lulus SMK hingga saya berkali-kali sakit dan gaji pun habis hanya utk berobat sana sini, capek karena hidup, waktu dan tenaga banyak terkuras utk pekerjaan, bagaimana nanti kalo harus menikah dan punya anak. akhirnya setelah merit saya putuskan untuk "egois dan mementingkan diri sendiri dulu" saya nggak ingin capek2 lagi mengabdi untuk orang lain, Kalopun harus kerja untuk menunjang ekonomi, saya usahakan untuk kerja di rumah saja. Lebih baik saya mengabdi untuk keluarga, selagi suami masih bisa memberi nafkah. Karena hal yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga, ketika suka dan duka melanda merekalah tempat kita kembali. Saya percaya rejeki itu sudah diatur oleh Yang diatas, walopun tidak punya uang yang penting hati saya tenang dan bahagia karena bisa berada di samping mereka, saya tidak tau apakah besok saya masih diberi umur (ini hanya cerita pengalaman dan prinsip saya saja, nggak ada maksud untuk menyinggung siapapun) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar dari pengalaman membuat orang menjadi kaya mbak, kaya hati. Terimakasih sharingnya, saya suka bacanya :)

      Delete
  10. Wah, terkadang manusia tidak sadar dengan dayanya lho. Dari pantaun sekitar, You can do it!! Trust me!.

    Sebenarnya kalau mau jujur, memang kebanyakan mereka yang nggak bekerja "loyo" sih. Tapi tidak semua kan. Tidak semua wanita yang tidak bekerja MENYADARI bahwa tugas mereka dirumah. (meski seharian mereka dirumah). Akibatnya meski dirumah banyak ngerumpi..nggosip, asyik sinetron..

    Kebalikannya, banyak orang yang sebenarnya siap bekerja tetapi "sadar" bahwa tugas utamanya dirumah,..jadi dilema deh. Btw akhirnya pasti menyeimbangkan keduanya, meskipun berat.
    Btw, wanita-wanita yang berniat benar selalu mendapat jalan kok..

    ..Jadi inget kalau lagi ngemeng2 sama temen-temen yang kerja pasti deh mereka bilang "Ingin keluar". So tetap saja yang paling ideal ya bekerja sambil jagain rumah. Selain dekat dengan anak, juga lebih terjaga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang2 bisa saling iri memandang "rumput tetangga" ya mbak Emi ^_^

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^