Dalam Dua Kerajaan

Tantangan terbesar berkeluarga dalam lingkungan rumahtangga orangtua sendiri adalah dalam pengasuhan anak. Ini saya alami sendiri. Dari 14 tahun pernikahan kami, 11 tahun terakhir ini kami tinggal dengan orangtua saya.

Di satu sisi saya bersyukur bisa mendampingi orangtua di masa tua mereka bertepatan dengan saat di mana dari 3 bersaudara hanya saya yang tinggal satu kota dengan orangtua. Namun di sisi lain hati saya sering sekali kebat-kebit karena seringnya mengalami perbedaan pandangan dengan Ibu. Perbedaan pandangan itu menyangkut hampir semua hal, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Sering kali menjebak saya dalam situasi serba tak enak, serba terjepit.

Sulung saya Affiq yang berwatak keras beberapa kali berkonflik dengan Ibu yang juga berwatak keras. Sejak saya kecil, Ibu selalu mendominasi kehidupan kami. Mungkin terbawa dari latar belakangnya sebagai anak bungsu, satu-satunya perempuan pula yang amat disayangi oleh ibundanya.

Gambar dari: 3-raelianews.org
Ibu pernah panik tatkala Affiq berusia 2 tahunan. Ketika itu Affiq mencoba menaiki tangga kayu yang disandarkan di tembok luar rumah, mengikuti ayah saya yang lebih dulu naik. Teriakan Ibu membuat Affiq bertambah cepat menapaki anak tangga. Gerakan Affiq itu justru membuat Ibu semakin panik dan mencubit kakinya. Marah sekali Affiq, saya harus membujuknya sekuat tenaga untuk meredakan tangisnya.

Affiq pernah menulis kata-kata tak sopan di atas secarik kertas dan meletakkannya di kamar Ibu pada saat usianya 6 tahun. Ibu marah besar, membuat jantug saya berdebar hebat. Affiq saya marahi karena sudah berulang kali saya beritahu tindakan seperti itu tak sopan dan tak akan ada orang yang menyukainya. Setelah saya marahi, saya peluk, saya belai, dan saya ucapkan kata-kata lembut untuk menenangkan hatinya.

Saya tanyakan alasannya melakukan itu. “Saya tidak suka sama Oma,” Affiq menceritakan alasannya. Saya katakan bahwa saya tak suka ada orang yang menyakiti ibu saya, Affiq pun pasti demikian bila ada yang menyakiti saya. Saya tunjukkan di mana kesalahannya. Saya buat ia mengakuinya.  Saya minta ia melakukan cara yang sopan bila hendak mengungkapkan isi hatinya kepada omanya. Ada cara lain yang bisa digunakan, jangan dengan cara yang tak sopan.

Alhamdulillah, bocah lelaki berwatak keras itu luluh juga. Ia bahkan tertegun melihat air mata saya mengalir. Saya katakan betapa saya menyayanginya dan tak ingin ia menjadi anak nakal.

Saya minta ia untuk meminta maaf pada Ibu. Permintaan itu ditolaknya. Wajahnya menunjukkan mimik keras. Saya bujuk-bujuk ia supaya mau menuliskannya di secarik kertas dan saya akan mengantarkan ia membawa kertas itu menghadap Ibu. Affiq kelihatan berpikir dan akhirnya bersedia juga melakukannya.

Terenyuh hati ini melihat Affiq mencoba merendahkan dirinya demi meminta maaf kepada Ibu yang masih terlihat keras. Syukurnya, Ibu menerima dan memberikan maaf setelah mengucapkan serangkaian nasihat kepadanya.

Peristiwa serupa terjadi lagi di saat usia Affiq 10 tahun. Kali ini ia sama sekali tak punya pembenaran. Apa yang dilakukan memang sudah kelewat batas. Saya memarahinya, menunjukkan kesalahannya. Lalu saya memintanya untuk segera meminta maaf. Alhamdulillah, tak pakai lama, Affiq segera melakukannya walau menggunakan adiknya – Athifah sebagai perantara. Saya tak menemaninya, membiarkannya mencoba memperbaiki kesalahannya seorang diri.

Gambar dari: 3-www.fotolia.com
Belum lama ini Affiq (saat ini berusia 12 tahun) pulang menjelang maghrib usai kegiatan ekstra kurikulernya di sekolah. Saya tak ada di rumah ketika ia pulang. Saya tiba di rumah beberapa saat kemudian, saat shalat maghrib berjama’ah di masjid sebelah masih berlangsung. Saya langsung mencari Affiq tapi batang hidungnya tak kelihatan padahal sepatunya ada di dalam kamar.

Tak lama kemudian ada suara-sedu sedan dari bawah ranjang. Sedu-sedan itu berasal dari bibir Affiq. Saya terkejut dan berusaha menariknya keluar. Ia tak mau. Bujukan papanya juga tak mempan.
“Kenapa, Nak?” tanya saya.
Ia tak menjawab tapi isakannya masih terdengar.

Akhirnya suami saya berhasil mengeluarkannya. Tapi ia tetap tak mau menjawab mengapa ia tersedu-sedan sedemikian rupa.
“Dimarahi Oma ya?” saya menebak.
Affiq mengiyakan.

Duh ada apa lagi ini? Hati saya terasa tersayat.
“Kenapa dimarahi Oma, Nak?” tanya saya lagi.
“Oma bertanya sama Saya. Saya jawab tapi suaraku kecil, Oma langsung marah,” sedu-sedannya menguat lagi.

Walau tak mau mengakui, Ibu saya sering mengalami gangguan pendengaran. Bertanya kepada Affiq – yang dianggapnya sebagai bentuk perhatian, kemudian dijawab dengan suara lirih pasti membuatnya berpikir Affiq tidak tahu aturan. Begitu pun kalau dijawab dengan suara keras, itu pun berarti tidak tahu aturan. Serba salah.

“Istighfar, Affiq!” berbarengan saya dan suami menyeru kepadanya.
“Tidak mau!” ujar Affiq.
“Istighfar, Affiq. Jangan biarkan setan menang. Kalau seperti ini, Kamu dikuasai setan. Jangan biarkan!” ujar saya.
“Tidak mau!”
“Istighfar!”

Saya memeluknya erat-erat. Mencoba menenangkannya.
“Sabar ya Nak. Oma memang begitu, jangan dimasukkan di hati,” terenyuh sekali  hati saya. Saya terus mengucapkan kata-kata menghibur dan menenangkan. Saya berusaha membuatnya memaklumi kondisi omanya yang sudah sepuh. Kali ini, tentu saja saya tak menyalahkannya dan tak memintanya untuk meminta maaf karena ia tidak salah.

Affiq kemudian bercerita, “Saya capek sekali. Kakiku sakit. Tadi sudah mau pulang dari sekolah, Saya ingat belum shalat ashar jadi Saya kembali lagi ke sekolah, shalat di masjid sekolah. Terus waktu jalan kaki ke sini, dikejar ka’ anjing di lorong sebelah.”

Duh kasihan anakku. Terbayang perasaan dan kondisi badannya tadi. Ia pasti masih stres saat tiba di rumah makanya ia hanya bersuara lirih ketika ditanyai oleh Ibu. Andai saya yang membukakannya pintu, saya tentu bisa mengerti keadaannya.

Tak berapa lama kemudian, Affiq tenang. Ia mengganti baju sekolahnya dan mengambil air wudhu. Saat Ibu mengadukan perilaku Affiq yang dianggapnya keterlaluan, saya mencoba memberikan jawaban tentang keadaan  sebenarnya. Namun Ibu tetap tak mau menerimanya. Saya akhirnya memilih diam sambil terus istighfar dan berdo’a dalam hati.

Dalam usia yang hampir kepala 4 ini, saya paham sekali kondisi Ibu. Saya juga paham sekali kondisi Affiq. Saya harus menjaga perasaan Ibu dalam bakti saya padanya. Saya juga harus menjaga perasaan Affiq dalam menjalankan peran saya sebagai ibu. Saya berharap selalu diberi petunjuk oleh Allah untuk melakukan hal yang tepat dalam kondisi-kondisi seperti ini.

Untuk kebaikan semua pihak saya harus selalu melakukan langkah-langkah berikut untuk menghindari ataupun mengatasi konflik:
  • Tidak serta-merta menyalahkan Ibu di hadapan anak-anak karena bisa membuat mereka hilang hormat kepada omanya.
  • Sebaliknya, saya berusaha menekankan bahwa omanya, ibu saya, harus mereka hormati. Itu tak bisa ditawar-tawar. Dan di saat-saat yang tepat (misalnya saat Ibu memberikan sesuatu kepada mereka) saya katakan bahwa omanya sebenarnya menyayangi mereka.
  • Tidak serta-merta membela anak-anak di hadapan Ibu. Pembelaan yang frontal akan memancing reaksi yang frontal pula dari Ibu, Ibu akan makin defensif. Jika anak-anak benar dan saya sudah berusaha menunjukkan “kebenaran”-nya tetapi tetap tak diterima Ibu, saya memilih untuk diam. Toh Allah Maha Tahu siapa yang benar, siapa yang salah. Saya tak boleh gegabah dalam hal ini. Bisa-bisa malah saya yang berdosa. Biarlah ini menjadi penilaian Allah saja.
  • Berkomunikasi dengan suami agar bersama-sama menjaga perasaan Ibu walau kami harus “menelan ludah” berkali-kali. Apa boleh buat, bakti kepada orangtua adalah kemutlakan.
  • Tetap berusaha berbakti kepada Ibu, sesuai dengan tuntuan agama.
  • Tetap berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, sesuai dengan tuntunan agama dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh selama ini agar pembentukan karakter positif dalam diri mereka tetap terjadi.
  • Tetap istighfar dan berdo’a untuk kebaikan semua. Untuk kebaikan Affiq, Ibu, dan saya. Agar Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kejernihan hati dan pikiran.
Sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kekurangan. Saya punya banyak sekali kekurangan dan sering kebablasan malah. Tetapi saya berusaha untuk kembali kepada poin-poin di atas sesegera mungkin. Semoga Allah meridhai.


Makassar, 23 September 2013






Share :

30 Komentar di "Dalam Dua Kerajaan"

  1. wow... dua perasaan nih tante, tapi hebat deh..
    aq ngebayangin aja udah puyeng bin dilema tapi tante luar biasa bisa melewatinya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus melewatinya, harus bisa, tidak ada pilihan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sini ^__^

      Delete
  2. butuh sikap yg bener2 bijak ya..
    inspiratif skali..
    makasih udah berbagi mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus berusaha bijak dan hati2 mbak. Terimakasih juga sudah membaca ^_^

      Delete
  3. Tips yg bagus Mak, kalo saya yang kyk begitu pasti serba salah mulu jadinya "jadi inget waktu tinggal ama mertua" :D

    Salut Mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang seba salah Mak. Apa boleh buat, bukan orang lain ini. Mohon do'anya ya Mak. Terimakash sudah membaca ^__^

      Delete
  4. Terharu bacanya mbak Niar. Makasih sharingnya, walaupun saya tidak tinggal serumah dengan orang tua maupun mertua, ilmunya tetap bermanfaat mbak. Sukses ngontesnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sdh membaca mbak Ika. Besok2 bila sudah jadi nenek, saya punya banyak pengalaman berharga ^__^

      Delete
  5. Tipsnya bagus mba, dan sangat bermanfaat. Semoga sukses lombanya.

    Salam wisata

    ReplyDelete
  6. Saya jadi sedih baca postingan mba, jadi ingat sama anak saya Farras dan ibu mertua saya yg terbilang keras dan galak. Sudah sering Farras dan ibu mertua saya berkonflik. Farras yg aktif, sementara ibu mertua saya sepertinya lebih menyukai anak2 yg cenderung kalem. Hhhh... jadi menarik nafas panjang, kalo ingat kejadian demi kejadian yg telah terjadi antara Farras dan mbah nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip kita ya mbak. Sama, ibu saya menyukai anak2 yang kalem, sementara anak2 saya nggak ada yang kalem hehehe. Sy dan adik2 ... alhamdulillah termasuk anak2 kalem, kalo dibawa ke mana2 betah duduk diam sampai pulang, dan tidak pernah minta pulang. Semoga Farras dan mbahnya baik2 saja ya mbak

      Delete
    2. Terima kasih mba, semoga dgn berjlnnya waktu dan bertambah usianya Farras, keadaan akan menjadi lebih baik dan mungkin akan menjadi lebih indah. Salam sayang buat Affiq.

      Delete
    3. Insya Allah Farras akan semakin pengertian mbak. Salam sayang jg buat Farras :)

      Delete
  7. Hmm.. pasti berat ya hidup bersama orang tua, walaupun orang tua sendiri. Ada dua cara mendidik anak, yg kadang bertentangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walau bisa dibilang berat, hikmahnya besar juga mbak :)

      Delete
  8. belum merasakan hal yg seperti itu mbak, karena memang belum menikah dan belum punya anak

    semoga kelak memiliki anak yang meskipun nakal tapi tetap berada pada jalur yg benar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ... moga2 punya anak dan jadi bapak di jalan yang benar ya :)

      Delete
  9. Tampaknya tak mudah hidup dalam dua kerajaan ini ya, Niar. Semoga Niar selalu kuat dan tetap jadi terminal perhentian bagi Affiq. Salam sayangku untuknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin terimakasih kak Evi .. iya benar .. tak mudah. Tapi insya Allah bisa ... dan harus bisa :)

      Delete
  10. 7 poin yang bermanfaat ya mbak, moga saya juga bisa mengikuti ke 7 poin itu...

    ReplyDelete
  11. biarpun repot ngurus bayi 2 biji, ibue ga mau tinggal bareng mbahnya anakanak. belajar dari pengalaman si adi yang sampe sekarang ga mau ikut ke jogja milih terus bareng mbahnya gara-gara sejak kecil mbahnya ikutan ngurus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu memang salah satu dampak negatifnya, Mas.
      Kalo sy alhamdulillah ngurus sendiri ...

      Delete
  12. Peran ibu yang luar biasa itu, Mbak, sungguh perhatian yang demikian yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak-anak tercinta. Semoga sukses ya, Mbak.

    ReplyDelete
  13. Huhuuu berarti beneran aku salah pencet krn komenku gak ada. Anyway, kembali ke topik, aku pernah di posisi itu, baik di keluargaku maupun keluarga suami. Soal anak gak masalah krn masih balita, lucu bgt, hiburan semua orang. Masalahnya di aku, jadi terpaksa sabar, banyak nahan diri krn bukan rumahku sendiri. Akhirnya jadi pendiem heuheuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebayang mbak ... dalam dua keluarga malah pengalamannya ya ..

      Delete
  14. wah padahal seringnya nenek itu kasih sayangnya n sabarnya dobel drpd emaknya ya..
    kalau saya malah pas marah2 sama anak saya gitu yang belain neneknya :D.. saya ganti diomelin kalau berani kasar sama anak hehehe..

    ReplyDelete
  15. alhamdulillah nemu tulisan ini.saya mengalaminya hampir tiap hari, tertekan dan bingung, makasih tulisannya mbak, input untuk saya agar bisa bersikap lbh baik lagi,

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^