Do'a Tak Terduga yang Tulus

Ini hanya secelah kecil tenda yang robek
dari banyak celah robek lain di becak si Gondrong

Saya melihat tukang becak itu mengacungkan jarinya saat saya dan Athifah berjalan meninggalkan gedung tempat pesta pernikahan kerabat. Itu tandanya ia menawarkan becaknya untuk saya tumpangi. Saya membalasnya dengan lambaian tangan, memanggilnya untuk mendekat.

Seperti sudah menjadi sebuah konvensi[i] bentuk komunikasi gerak tubuh seperti itu. Tukang becak itu mendekat lalu kami berbicara mengenai kesepakatan harga. Tukang becak gondrong berusia awal dua puluhan itu balik badan, mengambil sebuah sisir dari belakang jok becaknya sambil terus bernegosiasi dengan saya. Dengan cuek ia mencium sisirnya terlebih dulu kemudian menyisir rambutnya yang awut-awutan. Mungkin baunya masih bisa ditolerir olehnya sehingga wajahnya datar-datar saja setelah mencium sisir itu lalu menggunakannya.


“Delapan ribu,” ia menurunkan tarif yang disebut sebelumnya.
“Oke, tapi antar Saya masuk sampai ke dalam ya,” kata saya sepakat.

Si Gondrong mengayuh becaknya sambil mengajak saya mengobrol.

“Orang sekarang banyak yang tidak peduli anaknya. Dia saja yang shalat, anaknya tidak diajar shalat. Nanti setelah anaknya besar baru dia suruh shalat, sudah susah,” tukas si Gondrong, lugas.

“Iya, kalau mau ajar anak memang sebaiknya dari kecil, Daeng,” saya mengamini perkataannya.

Kita[ii] bagus, kita’ juga ajar anak ta’[iii]. Banyak pahala ta’,” imbuhnya dalam dialek Makassar yang kental. Maksudnya, “Anda bagus, Anda juga mengajari anak Anda. Banyak pahala Anda.”

Saya mendengarkan dan menganggukkan kepala. Entah apa maksud si Gondrong beramah-tamah seperti ini. Anggap saja ia sedang memperlancar kemampuan berbahasanya alias sedang mencoba mengungkapkan isi pikirannya sehubungan dengan sebuah fenomena. Kemungkinan ia berkomentar seperti ini karena melihat saya dan Athifah sama-sama berjilbab.

Athifah memang sudah sejak lama saya biasakan berjilbab ketika bepergian. Sejak bayi, sejak ukuran lingkar kepalanya sudah muat untuk jilbab anak-anak ukuran paling kecil. Kalau tidak salah ingat sejak usia dua atau malah satu bulan. Alhamdulillah hingga usianya lima tahun sekarang ini ia betah memakai jilbab ke mana-mana.

Lalu topik pembicaraan berpindah kepada tenda becak si Gondrong. Ia sendiri yang memulainya. Sambil menunjuk lubang pada tenda plastik itu, ia berkata (atau bertanya?). Ah, tepatnya ia mengajukan pertanyaan retorika yang sebenarnya ia sendiri sudah tahu jawabannya, “Masih bisa ji dipakai ini di’?” Maksudnya, “Masih bisa dipakai ini, ya?”

“Dengan lubang seperti itu, kalau hujannya keras, airnya bisa masuk,” jawab saya.

Saat itu tak hujan, jadi tak mengapa buat saya dan Athifah tetapi kalau hujannya deras. Pasti deh kami basah kuyup. Lha lubangnya ada di kedua sisi becak, besar-besar lagi.

“Memangnya tenda sekarang berapa harganya kah?” tanya saya.
“Tiga puluh ribu mi. Dulu masih sepuluh ribu tapi sekarang sudah naik,” jawabnya.

“Rencananya mau ka’[iv] ganti ki[v]. Malam ini Saya buang saja atau Saya kasih orang kalau ada yang mau. Kalau hari ini Saya dapat uang tiga puluh ribu, mau ka’ belikan tenda baru,” terang si Gondrong lagi.

Saya mengangguk-angguk.

Akhirnya sampai juga kami di depan rumah. “Ini uang becaknya,” saya menyodorkan uang pembayar ongkos kayuh becak sebesar kesepakatan tadi. “Dan ini zakat dari Saya,“ tambah saya seraya mengeluarkan sejumlah uang yang memang sudah saya niatkan setelah menerima sejumlah rezeki dua minggu yang lalu. “Mudah-mudahan bisa untuk tambah-tambah beli tenda ta’,” imbuh saya.

Mata si Gondrong berbinar.

“Terimakasih, Bu,” katanya.
“Sama-sama,” kata saya sambil mengangguk.
“Mudah-mudahan panjang umur ta’,” si gondrong mengucap sebuah do’a tulus.
“Amin,” saya mengangguk sambil tersenyum.

Ini kali kedua saya mendapat do’a tulus yang dari  dua orang berbeda dalam tiga bulan terakhir ini (kisah yang memuat ungkapan do’a yang serupa bisa dibaca di sini). Dan reaksi spontan dari lubuk hati saya yang paling dalam sama, yaitu sangat tersentuh karena dido’akan oleh orang lain dengan tulus. Itulah do’a terindah yang sanggup mereka lantunkan, tak mungkin saya meminta yang di atas itu kepada mereka.

Dan reaksi berikutnya, saya berharap Allah Yang Maha Baik sudi mengkonversi do’a itu menjadi usia yang berkah bagi saya. Jujur, saya tak berharap panjang umur. Saya mengikat diri pada takdir Allah saja, sepanjang apa jatah usia yang Ia berikan untuk saya. Kalau boleh berharap, saya menginginkan usia yang berkah di dunia dan akhirat. Kalau sepanjang usia kita berkah, panjang atau pendek tak mengapa karena berkah itu sudah merupakan modal besar ke gerbang akhirat. Untuk apa panjang usia kalau tak berkah.

Allah yang Mahapemurah dan Mahapenyayang ... Engkau Maha Tahu yang saya inginkan ... #sangat berharap mode on#

Makassar, 8 Januari 2012

Silakan dibaca juga:






           


[i] Konvensi: pemufakatan atau kesepakatan (terutama dalam hal adat, tradisi, dan sebagainya)
[ii] Kita’ dalam dialek Makassar/Bugis adalah kata ganti orang kedua yang sopan (anda)
[iii] ‘-ta’’ dalam dialek Makassar/Bugis adalah kependekan dari kita’, biasanya dalam kalimat penempatannya sebagai obyek atau menunjukkan kepemilikan.
[iv] Ka’ (dialek Makassar/Bugis) = ku (bahasa Indonesia)
[v] Ki, menunjukkan kata ganti yang merujuk kepada tenda becak.


Share :

7 Komentar di "Do'a Tak Terduga yang Tulus"

  1. tukang becaknya baik... sombere' sama orang..hehehe.. klo ketemu tkg becak begini pasti tidak segan2 kasi tambahan.hehe.

    ReplyDelete
  2. Si gondrong juga mungkin cuma basa basi tentang kondisi becaknya, ehhh tau taunya ketiban rejeki, dan si pemberi malah ketiban do'a... hidup itu ga jauh-jauh dari apa yang kita tanam yaa, kalo yang kita tanam itu bagus tentunya juga akan tumbuh yang bagus juga, dan sebaliknya juga begitu.. :)

    ReplyDelete
  3. @Hima Rain:
    Saya akui, dia memang punya modal 'luwes' :D

    ReplyDelete
  4. @Sam:
    Orangnya senang cerita memang. Cerita sebenarnya lebih panjang dari tulisan di atas :D
    Melalui dia, saya juga belajar mendo'akan orang yang sudah berbuat hal yang menyenangkan kita/berbuat baik. Seringkali saya lupa mendo'akan orang2 yang baik sama saya ...

    ReplyDelete
  5. bunda makasih dah follow, sebenarnya aku masih menata blog nya, aku baru mulai ngeblog ga lama, jadi masih utak atik biar tambak bagus, upload image ja dari kemarin ga bisa.

    ReplyDelete
  6. @Mutiaramutiaracinta:
    Terimakasih juga Cowie ... sekarang sudah bisa kan? Sukses yah ... ^__^

    ReplyDelete
  7. merenungi apa yang terjadi antara sekarang dan kapan

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^