Tentu Saja Makassar Tidak Kasar

Pantai Losari - dok. Pribadi
Saya Cinta Makassar!

            Merantau selama dua tahun lebih di pulau lain membuat saya merindu setengah mati kepada kota Makassar, kota di mana saya lahir dan besar. Kini, hampir sepuluh tahun saya dan suami saya meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja dulu dan itu tidak membuat saya menyesal meski banyak yang mengatai kami ‘bodoh’. Bagaimana tidak dikatakan bodoh, betapa banyak orang ingin bekerja di perusahaan minyak yang kerja sama dengan Amerika itu tapi kami malah meninggalkannya? Saya malah sangat bersyukur suami saya mengundurkan diri setelah bekerja hampir lima tahun waktu itu.


Pantai Losari - dok. Pribadi
Kasar?
   
         Persepsi bahwa orang Makassar (dengan asumsi orang Bugis itu juga orang Makassar) itu kasar sering saya dengar. Suami saya pun pernah ditanya secara blak-blakan tentang ini oleh temannya sewaktu masih bekerja di pulau seberang. Katanya, “Orang Makassar itu kasar, kata ‘Makassar’ kan mengandung kata ‘kasar’?”
        Ibu saya pun pernah berbincang-bincang dengan seseorang sewaktu beliau sedang berkendara bis menempuh perjalanan panjang di pulau seberang. Waktu itu ibu saya bercerita bahwa beliau orang suku lain yang sekarang bermukim di Makassar. Mengetahui hal ini, seseorang tersebut bertanya, “Wah, tidak takut Bu tinggal di sana?” Jelas saja ibu saya menjawab, “Tidak,” dengan mantap. Ya iyalah ... ayah saya kan orang Bugis, dan mereka sudah menikah selama tiga puluh tahun waktu itu!
       Di daerah ibu saya, sejak dahulu kala hingga sekarang pemeo, “Jangan menikah dengan orang Bugis/Makassar karena orang Bugis/Makassar itu tukang kawin!” Dan masih banyak lagi yang lain yang 'menggambarkan kekasaran' orang Makassar. 


Hei ... Makassar Tidak Kasar!

            Maaf, saya tidak mau pakai kata ‘kasar’ untuk menyifati orang Bugis/Makassar.
            Buat saya istilah itu muncul hanya karena dialeknya yang ‘keras’.
        Makassar tak kasar. Ada buktinya, kawan. Baru saja saya temukan pada website pemerintah kota Makassar (sumbernya: http://bahasa.makassarkota.go.id/index.php/pemerintahan/732-8-desember-makassar-terima-bung-hatta-award-2011 sudah tidak ada):
Pemerintah Makassar akan menerima Bung Hatta Award 2011 dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada 8 Desember nanti di Jakarta. Panitia Bung Hatta Award menyampaikan undangan tersebut kepada Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. "Tahun ini Makassar yang memperoleh Bung Hatta Award," kata Darus Amin, Panitia Bung Hatta Award dari Badan Penelitian dan Pengembangan HAM Kementerian Hukum dan HAM, di ruang kerja Wali Kota Makassar.
Penetapan Makassar sebagai peraih penghargaan, menurut Darus, “Setelah melalui sejumlah proses penilaian. Banyak aspek yang dinilai, termasuk ekonomi, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, dan hak asasi manusia."

        Kawan, cermati baik-baik kutipan di atas: yang akan memberikan penghargaan adalah KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Sementara salah satu indikatornya adalah: HAK ASASI MANUSIA.
         Kita pakai logika sederhana saja: Jika orang Makassar itu kasar. Sifat kasar mengacu kepada keburukan sikap/tingkah laku yang sangat masuk akal berbanding lurus dengan tindak kriminal. Dengan demikian logikanya, tingkat kriminalitas di Makassar adalah yang paling tinggi di Indonesia kan? Nah, kalau tingkat kriminalitas di Makassar paling tinggi seantero negeri ini, mana mungkin Bung Hatta Award akan diberikan kepada kota Makassar?
Darus menjelaskan, penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin. Sebelumnya, Kementerian Hukum memberikan penghargaan kepada Kabupaten Jembrana, Bali, pada 2009, sedangkan penghargaan pada 2010 diberikan kepada Kabupaten Serdang, Sumatera Utara. "Program ini akan memotivasi pemerintah daerah untuk terus memacu pembangunan daerah di berbagai sektor," kata Darus.
            Coba cermati lagi kutipan itu: pada tahun 2009 dan 2010, penghargaan itu hanya diberikan kepada satu kabupaten/kotamadya. Dari empat ratusan pemeritah kabupaten/kota, hanya Makassar yang akan menerima award itu bulan Desember nanti!
            Hei, Makassar tidak kasar kawan.
           Saya tahu pasti. Karena saya berasal dari orangtua berbeda suku dan karena saya pernah bermukim di wilayah heterogen.
          Saya pernah mendengar orang-orang Makassar dan Bugis yang berdialek keras dan lembut. Seperti juga daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki masyarakat dengan dialek berbeda (keras dan lembut), Makassar (dan Bugis) pun demikian.
            Ayah saya yang berasal dari Soppeng campur Sengkang, berbicara dengan sangat pelan. Dan tentang pemeo ‘tukang kawin’ itu? Halah itu hanya pemeo – olok-olok. Ayah saya sangat setia pada ibu saya, demikian pula paman-paman saya, pun sepupu-sepupu saya - mereka sangat setia pada istri-istri mereka. Di mana-mana ada lelaki tukang kawin kawan, tak harus ia bersuku Bugis/Makassar.
            Sementara suami saya yang berdarah Sidrap-Pinrang dan besar di Pare-Pare memiliki volume dan power suara yang keras. Tapi suami saya sama sekali tak pernah kasar pada saya. Ia malah menyapa saya dengan sebutan kita’. Kita’ adalah kata ganti orang kedua tunggal yang digunakan untuk menyapa orang yang dihormati, biasanya tidak digunakan untuk menyapa orang yang lebih muda, dan tidak lazim digunakan kepada istri. Tetapi suami saya yang usianya lebih tiga tahun lebih tua daripada saya menggunakan sapaan itu kepada saya hingga kini di saat usia pernikahan kami dua belas setengah tahun. Ah, ‘keras’ (saya tak mau memakai kata ‘kasar’ ya) hanyalah dialek, kawan. Itu bukan sifat. 
Pada suku-suku lain pun di mana saja tidak peduli dialeknya keras atau tidak, di situ ada orang yang kasar dan yang tidak kasar. Saya tahu ini karena pernah mengamati lingkungan saya yang heterogen (lingkungan yang terdiri atas beragam suku) bertahun-tahun yang lalu dan karena keluarga besar saya sudah banyak yang menikah dengan orang-orang dari suku lain.
Bagi Anda yang masih berpikir ‘Makassar itu kasar’. Please grow up.
Think like an adult!
Makassar, 25 November 2011

           
Silakan dibaca : 


           



Share :

12 Komentar di "Tentu Saja Makassar Tidak Kasar"

  1. yeaaaaaaa..... makassar tidak kasar \^o^/
    yang ada memang kadang orang terlalu menggeneralisir...
    satu atau beberapa orang seperti itu bukan berarti semuanya seperti itu kan :D
    *mengingat episode perkelahian mahasiswa yang bisa bikin kampus2 di makassar masuk tipi*

    atau bisa juga... yang menilai itu yg terlalu lembut... hihihi...

    ReplyDelete
  2. Iya sih, lucu.. sy pernah kerja sebagai PM disuatu project di Jkt. GM tau kalo saya orang Makassar, tapi dalam suatu kesempatan makan siang dengan beliau, dia bilang begini, "Wan, kamu ini bukan seperti orang Makassar, malah seperti orang Jawa". Saya hanya bisa senyum sambil meneruskan makan di resto ala Thai itu :)

    ReplyDelete
  3. @ Miss 'U:
    Peristiwa perkelahian itu memang menyedihkan namun pemberitaannya seringkali sepihak :(
    Peribahasanya namanya Pars Pro Toto : sebagian untuk semua, alias menggenaralisir

    ReplyDelete
  4. @ bl4ckfl4m3:
    Ternyata banyak yg mengalami spt yang saya tulis di atas yah he he he. Sy baru dari blog salah seorang peserta lomba ini, pengalamannya juga mirip sekali. Aih nasib jadi orang Bugis/Makassar he he he.
    Makasih sudah berkunjung ^^

    ReplyDelete
  5. lama tak berkunjung di blognya mbak..

    sulit memang untuk membersihkan air yang sudah kotor oleh tetesan tinta hitam. padahal hanya beberapa tetes tapi sudah membuat hitam semua airnya..

    tapi bukan tidak mungkin untuk kembali membersihkan nama makassar yang kasar diluar.

    salam mbak.

    ReplyDelete
  6. @Arman Rachim:

    Betul sekali, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tetapi mungkin juga tanpa itu pun, masih banyak orang yang tak cocok dengan cara sebagian dari kita berbicara yang cenderung cepat dan keras.

    Terimakasih sudah berkunjung.
    Salam.

    ReplyDelete
  7. Kakak.. selamat artikelx menang ^_^

    ReplyDelete
  8. Makasih Nu
    Selmat juga Nunu menang ^^

    ReplyDelete
  9. mantap gan.. punya opini, cerita dan berita ? kirim ke redaksiwacana@yahoo.com
    kami tampilkan di media online www.wacanakampus.com

    ReplyDelete
  10. setuju ka Niar, saya suka sekali catatan yang satu ini. suami saya berdarah makassar namun lembut suaranya dan baik hatinya :) bahkan dibandingkan pria Jawa sekalipun ada juga yang kasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ... di mana2 oranga kasar dan lembut ada, bukan karena sukunya :)

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^