Perginya Satu Bintang di "Babul Jannah"

11 April 2011, seusai shalat subuh.
            Dari pengeras suara masjid terdengar suara pak Haryadi, ustadz di TPA Babul Jannah dan masjid Bani H. Adam Taba, Rappocini Raya lorong 3 Makassar, “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia ... istri kami tercinta ...”, suaranya terdengar bergetar. Beliau melanjutkan, “Najmiah Manfaluti, pada pukul 3 subuh, dalam perjalanan ke rumah sakit”. Pasti tergores pedih hati beliau. Biasanya beliau yang mengumumkan berita duka warga sekitar di masjid, kali ini beliau mengumumkan berita kepergian istri tercinta.
            Saya terhenyak dan mengucap, “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un”. Kilasan wajah perempuan sabar itu membayang di mata saya. Tak terasa titik-titik air menggenang di kedua pelupuk mata saya. Saya tak mengenalnya dengan sangat akrab, namun demikian saya menaruh hormat dan kagum pada sosok perempuan berusia 60 tahun itu.
            Bersama pak Haryadi, ibu Najmiah yang berprofesi sebagai guru agama Islam di SMP Nahdiyat, Rappocini, menggerakkan TPA Babul Jannah dengan beragam aktifitasnya. Mulai dari mengajar mengaji anak-anak usia SD, hingga wisudanya (anak-anak ini membayar paling tinggi Rp. 20.000, bahkan ada yang tak mampu). Mengajar anak-anak pra sekolah (gratis, anak-anak hanya dibiasakan bersedekah setiap kali belajar, dengan jumlah bervariasi, antara Rp. 1.000 – Rp. 5.000, baca tulisan saya:  SEKOLAH AHAD, POTRET DEDIKASI GURU BERJIWA “LILLAHI TA’ALA”). Juga mengajar mengaji orang dewasa sekitar TPA dan masjid Bani H. Adam Taba, pengajian rutin setiap pekan di masjid, dan majelis taklim ibu-ibu.
            Rumah pak Haryadi penuh oleh para pelayat datang silih berganti sejak lepas subuh. Pukul 9 pagi, saya pergi melayat bersama Mirna adik saya, suami saya, dan Athifah – putri saya. Melihat wajah sabar yang kini pucat itu terbujur kaku di ruang tamu, titik-titik air kembali menggenang di kedua mata saya. Apalagi saat menyaksikan dua orang anak beliau tengah menatap pilu wajah ibunda mereka. Si bungsu – seorang pemuda yang masih kuliah, berulang kali mengusap wajah ibunya. Ia masih tergoncang. Ia bercerita, pada pukul 1 dini hari itu, ibundanya masih berbincang dengannya, menyuruhnya tidur karena ada mata kuliah yang harus ia hadiri pada pukul 8 keesokan harinya. Ibu Najmiah mengidap astma menahun, namun sampai pukul 1 hari itu ia masih sehat wal ‘afiat hingga tiba-tiba ia sesak napas dan minta dibawa ke rumah sakit. Suami dan anak-anaknya melarikannya ke rumah sakit yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer dari kediaman mereka. Namun Allah menakdirkan beliau berpulang di perjalanan, dalam gendongan si bungsu. Saya melihat para pelayat di sekitar saya. Bukan hanya saya dan Mirna yang matanya memerah, mereka juga.
            Selamat jalan ibu Najmiah. Semoga Allah meridhai segala amal baikmu dan menghapus segala dosamu. Amin yaa Rabbal ‘alamin.


Share :

0 Response to "Perginya Satu Bintang di "Babul Jannah""

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^