Matappa Festival Side Story: Kenyang dan Ujian Kesabaran

Saat melihat informasi mengenai Matappa Festival kira-kira 2-3 pekan sebelum pelaksanaan acara yang berlangsung 15 Oktober 2026, saya sudah pasang niat untuk menghadirinya. Maka saat melihat link pendaftaran sudah diumumkan, saya segera daftar. Saya tertarik menghadiri talkshow La Galigo, apalagi Prof. Nurhayati Rahman (Guru Besar FIB UNHAS) menjadi salah satu narasumbernya.

Matappa Festival Side Story

Informasi berikut setelah mendaftar, saya terima dari panitia Matappa Festival melalui email. Ada informasi mengenai macam-macam acara dan bagaimana mendapatkan makanan gratis sebagaimana yang diberitakan di Instagram Indika Foundation – yayasan yang menyelenggarakan festival budaya ini. Seingat saya ada informasi mengenai free meal-nya untuk sekian (lupa berapa) pendaftar pertama.

Sebenarnya hendak pergi bersama Athifah putriku tetapi dia pulang kampus lepas magrib. Jadi saya pergi duluan, diantar anak sulungku Affiq. Athifah ingin nonton pertunjukan teater. Berdasarkan rundown, teater dan talkshow berdekatan waktunya. Jadinya, kami janjian bertemu di Fort Rotterdam saja lalu nanti bisa sama-sama pulang.

Tanggal 15 Oktober lalu, saya datang jelang magrib supaya tak terlalu lama menunggu putriku. Registrasi ulang di tenda panitia, lalu mengikuti alur challenge festival, yaitu mengumpulkan stamp dengan menelusuri Lorong Pengetahuan, I La Galigo Corner, menyelesaikan sejumlah hal di kartu yang disediakan, seperti selfie saat acara utama dan upload di Instagram Story.

Sebelum ke musala untuk salat magrib, saya telusuri dulu Lorong Pengetahuan. Informasi yang disajikan di standing banners menarik, seputar La Galigo, Colliq Pujie, Matthes, dan upaya pelestarian yang telah dilakukan. Hasil penelusuran saya di Lorong Pengetahuan bisa dibaca di tulisan berjudul 5 Fakta La Galigo: Epos Terpanjang di Dunia Menembus Zaman.

Free Meal yang Bikin Kenyang di Matappa Festival

Setelah menelusuri Lorong Pengetahuan, saya melihat-lihat I La Galigo Corner, lalu ke booth-booth makanan. Di sana ada Jagotako, Snack Box Makassar, Moki Chicken, Pallubasa Hertasning, dan Ayam Tolak Pinggang Tetta Cini. Sudah ada sejumlah anak muda antre di depan booth-booth tersebut. Saya juga mengambil posisi untuk mengambil kue, minuman, dan makanan. Setelah itu ke mushola untuk menunaikan shalat maghrib.

Baru kali ini saya datang ke event seperti ini, makanan disediakan gratis. Saya boleh mengambil satu makanan berat, dua gelas minuman ringan, dan sepiring kue. Keren nih, Indika Foundation, kami tidak perlu repot lagi mencari makanan. Makanan dan minuman yang disediakan juga berlimpah. Bahkan para peserta yang belum mendaftar via online juga mendapatkan makanan dan minuman. Seperti putriku, dia registrasi on the spot setelah pertunjukan teater yang ingin dia saksikan selesai, dia juga mendapatkan free meal.

Berhubung waktu makan malamku sudah tiba, usai salat, langsung kusantap makanan yang kuambil sebelumnya. Tidak kuhabiskan, yang penting ada isi perut dulu. Lalu menuju tempat acara utama, di dekat panggung, di sisi utara Fort Rotterdam.

Putriku belum datang saat diriku usai salat magrib. Pengunjung sudah pada mengambil tempat yang disediakan, lesehan di depan panggung. Ada bantal-bantal besar warna-warni disediakan sebagai alas duduk, di antara rangka-rangka besi kokoh yang menyerupai tenda besar tanpa dinding. Di  bagian atas “tenda” ada kain-kain warna-warni terbentang, dihiasi lampu-lampu kecil. Cantik sekali.😍

Sebagian bantal warna-warni – di bagian depan, terletak di atas rumput yang beralaskan karpet. Di bagian belakang ada sejumlah tikar tergelar, menjadi alas bantal warna-warni. Saya tak mendapatkan tempat yang ada bantalnya. Semua sudah ada “penduduknya”. Eh, beberapa deret di bagian depan masih kosong sih tetapi saya tidak mencoba duduk di sana karena saya pikir mungkin buat orang-orang penting yang datang karena yang terisi di bagian tengah ke belakang.

Booth Makanan di Matappa Festival

Ujian Kesabaran Sampai Penghujung Acara

Saya mengambil tempat duduk lurus di depan panggung, di belakang bantal-bantal warna-warni beralaskan tikar. Tadinya saya pikir tikar dibawa sendiri oleh orang-orang yang duduk di depan saya sebab mereka terlihat sebagai keluarga besar. Ada 2 anak kecil, satu perempuan paruh baya, 2 perempuan yang lebih muda. Di dekat mereka ada 2 pasang suami-istri.

Saya pikir, ini posisi yang paling nyaman, yang mana saya masih bisa melihat apa yang dipertunjukkan di depan sana. Ternyata saya salah, duduk di belakang orang-orang yang tengah berekreasi ini, saya bagaikan mendapatkan ujian kesabaran sampai di penghujung acara!

Mau tahu apa yang saya alami? Mari saya rincikan:

  • Mereka ngobrol dengan suara keras seperti orang yang sedang piknik di pantai. Ngobrolnya diselingi terbahak-bahak pula. Kalau sebelum mulai acara ngobrol ya ndak apa. Saya tidak berkeberatan tetapi saat acara mulai, mereka masih ngobrol saja. Mereka rupanya bukan penikmat acara karena perhatian mereka tidak terpusat ke panggung, mereka penikmat piknik gratis yang sibuk dengan sesama mereka! 😫
  • Sebentar-sebentar ada saja anggota rombongan ini yang berdiri, mengganggu pemandangan saja. Tidak jarang anak-anak muda di sekitarku dan diriku berteriak, “Bu/Pak, duduk ki’, tidak keliatan!” Namun demikian tetap saja begitu, sampai selesai acara. Saya sampai harus menggeser duduk berkali-kali demi mendapatkan arah pandang yang cukup nyaman. 😓
  • Mereka bolak-balik ambil makanan dan minuman. Terutama ibu paruh baya itu, lebih dari 3 kali dia berdiri untuk ambil makanan dan minuman. Kalau balik dari booth, tangan mereka penuh dengan makanan dan minuman. Sejumlah tas di dekat mereka penuh dengan makanan dan minuman. Putriku mendengar, sewaktu ada yang bertanya mengapa dia bisa mengambil makanan dan minuman sedemikian banyak, ibu paruh baya itu mengatakan bahwa di antara petugas ada yang dia kenal.

Rasanya energiku hampir habis duduk di belakang para penikmat rekreasi gratis itu. Gongnya ketika seseorang dari mereka nyampah tepat 1 meter di depanku tetapi kutidak berani pindah tempat juga karena kalau pindah, belum tentu bisa dapat tempat duduk yang lebih baik dan bisa merekam/memotret apa yang berlangsung di panggung sebab rencanaku ingin buat postingan blog dan Instagram tentang Matappa Festival ini.

Padahal duduk di belakang pun, lurus dari panggung di posisi dudukku ini, tidak begitu jelas suara dari panggung jika yang berbicara suaranya halus seperti ketika Prof. Nurhayati, Pak Alan, dan moderator berbicara. Harus memusatkan perhatian untuk mendengarkan suara mereka tetapi tidak bisa dilakukan maksimal karena kebisingan orang-orang di depanku itu. Beda halnya suara kedua MC, vokal mereka bagus sekali, setiap perkataan terdengar jelas.

Gemerlap Matappa Festival

Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa selain launching novel trilogi Matthes, Colliq Pujie, dan Matappa, talkshow membicarakan mengenai pelestarian La Galigo di mana Prof. Nurhayati berperan besar di dalamnya. Prof. Nurhayati berharap ada generasi muda yang melanjutkan upayanya sebab dirinya sudah sepuh.

Selebihnya tidak ada lagi yang bisa saya tuliskan tetapi di luar gangguan itu, saya cukup menikmati festival ini sebab panitia sudah bekerja dengan sangat baik. Saya pulang dengan kenyang, bahkan membawa cukup banyak kue yang masih tersedia setelah ada persetujuan dari panitia yang mengatakan kepada pengunjung bahwa kami boleh membawa pulang makanan yang masih tersedia. Begitulah insting kolombus (kelompok pembungkus) ibu-ibu yang sudah terpatri kuat di dalam diriku, begitu ada aba-aba, ikut mengambil kesempatan. 😁

Terima kasih Indika. Semoga manfaat kepada generasi muda yang diharapkan, bisa terserap dengan baik oleh anak-anak muda ini, meskipun saat talkshow saya lihat yang di bagian belakang tidak memperhatikan apa yang dibicarakan di depan.

Maafkan jika ada salah-salah kata dari saya, hanya sekadar mengungkapkan apa yang saya alami, lihat, dengar, dan rasakan. Semoga masih ada pelaksanaan kegiatan budaya seperti ini lagi di tahun-tahun mendatang.

Makassar, 31 Oktober 2026





Share :

0 Response to "Matappa Festival Side Story: Kenyang dan Ujian Kesabaran"

Post a Comment

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^