Mama Juga Marah-marah, Toh?

Mama sedang dalam masa-masa “belajar”mendampingi satu anak gadis (si tengah), satu anak usia dewasa (si sulung), dan satu anak special needs (si bungsu). Ketiganya berbeda wataknya. Dalam usia yang berbeda-beda, seharusnya beda pula pendekatannya.

Sering kali Mama mengingat-ingat masa-masa remajanya untuk menghadapi nona mungilnya. Eh bukan nona mungil lagi, sih. Dia sekarang gadis remaja dengan tinggi badan yang hampir sama dengan Mama. Mama mencoba mengingat-ingat masa remajanya namun tentunya tak berharap Athifah sama persis dengan dirinya dulu.

Mama mengakui, salah satu kemiripan Athifah dengan dirinya adalah daya kritisnya. Jangan salah bicara maka nona ini akan menggunakan kata-kata Mama sebagai “senjata”. Lalu voila, terjadilah senjata makan tuan. Jangan tanya berapa kali sudah hal ini terjadi. Nona itu pasti tak sadar namun setelah membaca ini pasti dia menyadarinya.


Mama menuliskan ini di blog dengan sepengetahuannya. “Mama tulis ya tentang kamu waktu bicara soal marah-marah itu,”kata Mama suatu hari. “Terserah,” ucapnya.

Jadi ceritanya begini. Gadis ini menceritakan suatu hari di sekolah dia menangis keras. Katanya sebal sama teman-temannya yang memakai barang-barangnya. Memang selama ini banyak di antara kawan-kawannya yang malas membawa barang sendiri. Entah itu untuk keperluan tulis-menulis atau untuk prakarya di sekolah, atau untuk tugas lain.

Jadinya mereka sibuk meminta sana-sini kepada kawan-kawan yang rajin. Gondok sekali Athifah sama anak-anak model begini. Jelas saja kan. Kalau dirimu bersiap untuk suatu hal lalu pada waktunya, orang-orang di sekelilingmu mengambil dengan seenaknya persiapan yang sudah kau lakukan, apa tidak jengkel?

Tetapi cerita tentang menangis ini membuat Mama ter-“eh” ... maksudnya bengong dan di dalam hatinya bilang “eh” 😅 tapi Mama paham sih, anak perempuannya ini sepertinya tipikal Feeling dalam pola kepribadian STIFIN atau Sanguinis yang penuh perasaan dan extrovert dalam menunjukkannya. Sangat berbeda dengan Mama yang jauh lebih introvert.

Maka Mama tak dapat menahan dirinya untuk berkata, “Ih, jangan mi juga sampai menangis keras begitu.”

“Lagi haid ka’, Ma. Makanya saya menangis keras. Kan pengaruh hormon,” kurang lebih itu kata gadis Mama, menghubungkan lompatan perasaannya dengan keadaan emosionalnya di sekolah.

“Heh? Jangan mi juga kapang sampai begitu,” ucap Mama, setengah geli dan takjub.

Mama juga toh, kalau lagi haid suka marah-marah!”plak ... dengan sangat telak dia membuat Mama terdiam dan secepat mungkin introspeksi diri. Keki ... kekiiii banget tapi Mama menyadari inilah realita dan cermin yang disodorkan putrinya. Mama bisa bilang apa? 🙈🙇

Baiquelah Nak. Mama akan mencoba belajar lebih sabar, lagi. Anak-anak memang harus menjadi tempat orang tua belajar bersabar. Terima kasih atas feed back-mu.

Makassar, 16 November 2019



Baca juga:



Share :

2 Komentar di "Mama Juga Marah-marah, Toh?"

  1. Wah, saya pernah dan mungkin masih akan merasakan hal yang sama dengan gadis nya kak mugniar. Tapi positifnya dia masih mau jujur dengan perasaannya, sehingga orgtua bisa mencari solusi dri masalah tersebut. Semangat kak mugniar, semoga lelah seorang ibu akan berbuah pahala 😇😇

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^