Pendidikan Luar Sekolah: Support System dan Kualitas Diri

“Banyak sekali orang kutemui yang bikin saya kagum, Cha. Mereka sukses dengan gaya masing-masing. Persamaannya adalah, mereka tidak semata-mata kuliah saja. Selama kuliah, karakternya terasah. Juga berbagai kemampuan, termasuk soft skill. Dan di Makassar saat ini sudah banyak sekali tempat belajar bagus.”

Itu penggalan percakapan saya dengan seorang kawan lama. Kami saling menanyakan kabar sulung kami masing-masing yang menjalani proses SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Jalur SNMPTN ini jalur bebas tes. Tiket pertama untuk masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) tanpa tes, hanya melalui seleksi berkas (rapor) dan kelengkapan lain.


Saya tak menduga si sulung Affiq nilai-nilai rapornya memadai untuk ikut dalam persaingan SNMPTN karena baru akhir-akhir ini saja ada lonjakan berarti pada nilai rapornya. Saya memang tak pernah memaksanya atau sekadar memotivasinya untuk mendapatkan ranking.

Sebab sejatinya memang ranking bukanlah yang utama. Yang paling penting dalam sebuah proses belajar adalah: dia sungguh-sungguh belajar, dia berkemauan kuat untuk belajar, dan dia pahami apa yang dia pelajari.

Jadi, ketika suatu hari Affiq bilang dia terverifikasi untuk ikut jalur SNMPTN, saya excited. Pun ketika menjadi saksi keteguhannya menunggui website-nya selama sepekanan untuk input dan melengkapi berkas, saya bersyukur dia sudah punya sedikit modal untuk melangkah.


Ayuni Nur Fitrah, mahasiswi jelang 22 tahun. Saya
bertemu pada TtT Womenwill bulan lalu. Ayu merupakah
pengusaha jamur beromzet 1,5 - 2 juta per hari.

Saya menyarankan mengambil pilihan yang dia sukai di sebuah kampus negeri di tengah kota. Realistis untuk nilainya dan sesuai dengan harapan saya seperti yang saya obrolkan dengan kawan.

“Banyak saya temui kegiatan menarik di Makassar yang kalau kuliahnya di Makassar bisa diikuti. In syaa Allah banyak orang dan tempat belajar yang bisa ditempati "magang". Banyak anak universitas terkenal sekarang terlalu sibuk kuliah, susah memperkaya diri dengan soft skill dan keterampilan lain  padahal pada kenyataannya, dua kemampuan itu penting,” ucap saya lagi. 

Harapan saya adalah tempat kuliah yang berada di tengah kota jadi selepas kuliah, si sulung masih bisa mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra lainnya. Termasuk mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang mumpuni di bidangnya. 
“Banyak ka' ketemu orang bagus Icha, mereka bukan dari kampus terkenal. Tapi kekuatan diri mereka yang bikin mereka jadi bagus,” imbuh saya.

Salah satu contohnya ada pada foto di atas: Ayuni Nur Fitrah - mahasiswi sekolah tinggi Keperawatan. Dia baru berusia jelang 22 tahun tapi omzet usaha jamurnya per harinya 1,5 - 2 juta rupiah. Pada kenyataannya demikian, kan. Menjadi lulusan sekolah terbaik bukanlah point yang paling penting kalau kualitas diri tidak terus-menerus ditingkatkan. 

Dan saya lihat, kualitas itu berhubungan dengan soft skill dan keterampilan yang matching dengan dunia kerja atau bahkan mampu menciptakan lapangan kerja. Seiring berjalannya waktu, definisi sukses buat saya bukanlah sekadar punya uang banyak tetapi kualitas dirinya bagus. Di mana kualitas diri yang brilian didukung oleh kemampuannya memberi manfaat bagi masyarakat nantinya.

Affiq mempelajari cara membuat video meme
ketika duduk di bangku SMP dan menjadi
salah satu admin di grupVideo Meme Indonesia

Ya, dalam perjalanan kehidupan, saya menemukan orang-orang demikian dan saya terpesona dengan pancaran aura mereka! Aktivitas ngeblog saya selama ini telah memperluas jejaring pertemanan saya. Untuk minat si sulung pada dunia IT dan desain grafis, saya dan pak suami bisa mengenalkannya kepada para praktisi yang telah bergelut dalam dunia kreatif, digital, dan keriwausahaan.

Preferensi saya saat ini dalam mendukung si sulung adalah dengan mengusahakan support system, di antaranya adalah dengan mempertemukannya dengan para praktisi untuk memperkaya pengetahuan dan pengalamannya, membantunya menguatkan karakter positif, memfasilitasi/mencarikan wadah untuk mengembangkan soft skill, hard skill, dan memantaskan diri menjadi motivatornya.

Tak dinyana, usai bincang-bincang dengan kawan lama itu, saat tengah browsing saya menemukan hasil penelitian dari  Thomas J. Stanley, Ph.D. Thomas J. Stanley[1] memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 miliuner di Amerika Serikat.

15 postingan dari akun Instagram Affiq

Risetnya menemukan bahwa nilai baik (apakah itu NEM, IPK, dan ranking) ternyata hanyalah merupakan faktor sukses nomor urut ke-30. Sedangkan faktor IQ berada pada urutan ke-21 dan bersekolah di sekolah favorit di urutan ke-22[2]. Menemukan ini bak gayung bersambut buat saya. Makin meneguhkan perkiraan saya.

Di sisi lain, hasil penelitian Employment Research Institute tahun 2005 mengungkapkan bahwa hard skill hanya berkontribusi sebesar 18% terhadap kesuksesan seseorang. Sisanya 82% disumbangkan oleh kemampuan soft skill[3].

Namun demikian hard skill diperlukan pula ketika memasuki dunia kerja. Kita ketahui bersama, sering kali hard skill kurang dimiliki secara memadai oleh seorang fresh graduate lulusan perguruan tinggi. Sementara perusahaan menginginkan tenaga kerja yang sudah memiliki kemampuan tertentu. Link and match antara pendidikan tinggi dan dunia kerja belum sepenuhnya terpenuhi!

Bagi mereka yang sudah sempat memperkaya dirinya dengan aneka soft skill dan hard skill sebelum memasuki dunia kerja tentunya akan lebih disenangi perusahaan. Atau bahkan bisa membuka lapangan kerja di usia yang masih sangat muda.

Support system untuk membangun hard skill dan soft skill.

Nah, untuk sulung saya, sudah ketahuan minatnya di bidang IT dan desain grafis. Jadi saya berharap dia bisa mengembangkan kemampuannya itu dengan hal-hal baru. Basic-nya, sih sudah ada. Dia belajar menggunakan software Adobe Flash secara otodidak sejak duduk di bangku SMP untuk membuat video meme.

Dia juga belajar mandiri menggunakan Photoshop dan Corel Draw untuk mendesain. Sudah pernah menerima orderan desain baligho pula. Semoga kelak dia bersedia diajak mengasah kemampuan berkomunikasi dan berdiplomasi, juga belajar berwira usaha.


Itu harapan saya, sih. Semoga saja bisa sejalan dengan dia nantinya. Nah, di sinilah pentingnya peran pendidikan di luar sekolah – untuk mengembangkan hard skill dan soft skill. Saya sudah mengantongi beberapa nama yang bisa saya referensikan kepadanya. Selain itu, masih mencari-cari lagi. Alangkah bagusnya kalau dia bisa belajar dengan lebih terstruktur, dengan silabus yang terencana dan diajar oleh para praktisi di bidangnya.

Suatu hari, ketika sedang browsing-browsing di internet, ketemulah nama DUMET School. Rupanya Dumet School ini merupakan tempat kursus dengan 9 program. Beberapa di antaranya adalah Web Master, Graphic Design, Digital Marketing, Web Programming, Web Design, Mobile Apps, dan Motion Graphic. Wow, kemampuan ini semua dibutuhkan Affiq!

Sayangnya waktu saya bertanya kepada customer service-nya – Mbak Selly di website Dumet School, saya mendapatkan jawaban bahwa tak ada online course untuk beragam kursus ini. Menurut Mbak Selly, untuk kursus seperti ini, metode tatap muka adalah yang paling baik. Benar juga sih.


Testimoni Dumet School

“Banyak juga peserta kami yang berasal dari Makassar, Bu Niar,” ujar Mbak Selly.

Hm, wajar sih.  Telah lebih dari 8000 peserta kursus di Dumet School yang berasal dari sekolah, universitas, instansi pemerintah, dan perusahaan ternama. Sudah begitu banyak testimoni bertebaran. Wajar saja jika warga kota lain bela-belain ke sana untuk belajar.

Bagi kalian yang berdomisili di Jakarta dan Depok, tentunya mudah saja mencari lokasi yang cocok dari website-nya. Kalian akan dibantu memilih jenis kursus yang tepat jika masih bingung. Selain itu, beragam artikel bisa dibaca di website Dumet School untuk memperkaya pengetahuan Anda. Harapan saya semoga saja kelak Dumet School akan buka cabang di kota Makassar dan mencerdaskan lebih banyak orang lagi.

Makassar, 22 Februari 2019

Tulisan ini diikutkan lomba Dumet School untuk bulan Februari 2019



[1] Thomas J. Stanley, Ph.D  adalah penulis dan ahli teori bisnis Amerika. Dia adalah penulis dan rekan penulis beberapa buku pemenang penghargaan tentang orang-orang Amerika yang kaya, termasuk penjual buku New York Times, The Millionaire Next Door dan The Millionaire Mind (Wikipedia).

[2] Ingin baca yang lebih lengkap, hingga 30 penentu kesuksesan, bisa simak di http://matematikadetik.com/100-faktor-sukses-apa-saja-yang-termasuk-10-besar/.

[3] Dikutip dari buku Public Speaking Mastery yang ditulis oleh Ongky Hojanto, diterbitkan oleh GPU, halaman 18 – 19.



Share :

73 Komentar di "Pendidikan Luar Sekolah: Support System dan Kualitas Diri"

  1. memang perlu ay, krn pinatr saja gak cukup, nanti kurang bisa bersosialisasi, karakter perlu dipupuk denagn banayk kegiatan di luar sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Pintar pun, untuk ukuran sekolah sebenarnya hanya mengukur sedikit dari jenis kecerdasan anak. Padahal begitu banyak keterampilan hidup yang harus dipelajari.

      Delete
  2. Hai Kak... Semoga Affiq bisa lolos SNMPTN jika jadi ikut dan bisa kuliah di kampus yang diharapkan. Aamiin...

    Saya termasuk anak yang tidak terlalu pintar di akademik saya, tapi saya memiliki beberapa pengalaman di luar akademik, termasuk part time. Sejak kuliah semester akhir, akhirnya bisa sambil kerja di perusahaan yang cukup mapan, meski masih part timer.

    Lalu, setelah lulus kebetulan selesai sidang. Tepatnya pulang sidang, langsung ditawari full time oleh perusahaan.

    Jadi, kalau bisa dibilang, saya tanpa sadar dulunya sudah menguatkan soft dan hard skill saya di luar akademik dan ternyata itu memberikan saya banyak pengalaman yang membuat saya akhirnya berkarakter (kata teman-teman saya).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Masya Allah. Terima kasih banyak telah berkomentar di sini, Mbak Einid. Makin menguatkan paradigma saya dan apa yang saya tuliskan di sini karena Mbak mengalaminya sendiri. Mbak secara tidak sadar sudah menjalani apa yang "seharusnya" dijalani agar mumpuni. Terima kasih sekali lagi. Really apreciate your comment.

      Delete
  3. Peran orang tua emang penting banget ya untuk mengarahkan anaknya. Walopun mereka ada keinginan sendiri tapi harus kita berikan masukan dan pandangan untuk masa depannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sebagai support system utama, orang tua punya kewajiban.

      Delete
  4. Menrt saya mmg pendidikan di dalam sekolah itu gak cukup, apalagi terkesan monoton dn bgtu2 saja. Perlu ada sekolah luar yg menunjang kreatifitas anak. Btw kak klu mw ambl kursus di Dumet school nd adaji batasan usia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Dumet School ini seperti kursus Aini. Seperti pendidikan luar biasa lainnya ya usianya tidak pernah dibatasi. Kecuali kalau dibilang kelasnya untuk anak-anak, ndak mungkin diikuti oleh orang dewasa :D

      Delete
  5. memang sangat perlu support-system dalam hidup. Karena pada dasarnya manusia ya makhluk sosial, mengandalkan diri sendiri mana kuat tahan lama. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komen yang berkesan. Kalau mau kuat dan tahan lama, bagusnya ikut pendidikan luar sekolah ya 😄

      Delete
  6. Saya setuju bahwa soft skill memang yang paling utama. Apalagi dalam perkembangan zaman, nilai ijazah bukan lagi yang utama untuk mencari kerja. Karena sekarang semua serba terbuka, mereka yang bisa bersaing dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang akan potensial menjadi pemenang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya. Bidang pekerjaan dalam dunia kreatif biasanya tidak terlalu mementingkan ijazah yang penting punya skill.

      Delete
  7. Deh,,masih kuliah sudah punya omset 1,5-2 jt perhari..luar biasa..Ide-ide kreatif anak muda seperti inilah yang hrus di kembangkan..apalgi Di tunjang sama minat dan keterampilan khusus..

    Bdw anknya ibu suka bikin video yah,,kasi masuk di komunitas youtube..banyak ji youtubers ank smp dan Sma..bahkan editornya ank Youtube Makassar itu anak SmP.. Yah udah besar bnyak di kalah oleh anak smp ini dalam ngedit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah mi saya sarankan. Tapi kayaknya tunggu dia tergerak sendiri. Kadang-kadang kalo mamaknya yang sarankan dia kelihatan cuek. 😄

      Delete
  8. Sepakat mba, kalau pintar secara akademis itu bisa dikejar asal tekun, tapi anak harus punya dasar karakter kuat, nggak mudah menyerah, dan kreatif. Karena profesi dan pekerjaan di masa depan bisa jadi sesuatu yang sekarang nggak kebayang sama sekali. Contohnya aja, jaman kita sekolah dulu belum kebayang ada pekerjaan asyik banget kaya blogger dan vlogger, heheeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak Yoanna. Semoga kubisa melakukannya.

      Delete
  9. Jika ingat pengalaman SNMPTN dan SBMPTN jadi flashback kejadian setelah lulus aliyah, hheeeee
    Semoga Mas Afiq bisa diberi kelancaran SNMPTN-nya dan hasilnya sesuai dg kerjakerasnya, Amin... Solanya itu keren loh kemampuannya bikin meme dan bisa operasiin adobe premeier otodidak, hheeee, Good Luck buat Mas Afiq ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih ya Rohmah. Sama kayak Rohmah, anakku pun di Aliyah sekolahnya :)

      Delete
  10. Memang penting banget ya mbak soft skill itu, anak2 beruntung sekali punyq ibu seperti mbak niar yang membantu mengarahkan :)

    ReplyDelete
  11. Sepakat mba kalau pendidikan luar sekolah memang harus dilakukan agar makin banyak anak yang berprestasi di bidangnya. Jadi nggak hanya sekolah formal saja. SUkses untuk sulungnya ya mba :)

    ReplyDelete
  12. sepertinya Afiq sudah memiliki support system yang tepat untuk mengembangkan kemampuannya, baik itu esensial skill mau pun hard skillnya. Maju terus, Afiq!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Oppa. Kapan-kapan Affiq jalan-jalan ke Pasikola, belajar sama Om Lebug yaa.

      Delete
  13. Setuju, kemampuan soft skill akan lebih menentukan nasib seseorang akan berhasil atau tidak, ketimbang nilai yang oke di sekolah. Meski sampai skrg pun ortu masih membanggakan nilai sekolah anak dibanding menilik kemampuan tertentu anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Saya sudah menyaksikan banyak bukti dan membuktikannya sendiri.

      Delete
  14. Wah, bener banget mba. Kerasa bahwa banyak soft skill yang gak kita pelajari di sekolah tapi erat kaitannya dengan apa yang akan kita kerjakan di masa depan. Musti pinter pinter cari ilmu di luar sekolah ya. Jadi kepo nih sama Dumet ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Tidak boleh berhenti belajar.
      Silakan ke website Dumet School, Mbak

      Delete
  15. Apapun cita-cita anak kita yang penting positif untuk masa depannya semua kita dukung ya Mbak. Semoga saja apa yang dicita-citakan si sulung bisa tercapai.

    ReplyDelete
  16. Saya mengalami sendiri soft skill justru didapat di luar. Bagaimana harus berpikir pintar di tengah persaingan yang ketat. Soal dumet kok aku tertarik ya, mba. Cari info dulu deh, kebetulan deket Jakarta juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuah, bisa sekalian kursus di Dumet, Mbak Erin :)

      Delete
  17. Softskill memang harus banyak dikembangkan dan ini menunjang banget sama masa depan, sayapercaya banget itu dan sudah merasakannya sendiri.

    ReplyDelete
  18. Sukses untuk putranya ya Mbak Niar. Semoga yang dicita-citakan tercapai.
    Saya ada tetangga sebelah rumah, dulu lulusan TI universitas swasta di Jakarta, kini jadi tenaga ahli di perusahaan asing , jadi rolling kerjanya ke negara ASEAN per bulan. Masih muda dan saya ikut bangga. melihatnya. Kata Mamanya karena kemampuan bahasa dia dan latihan intensif di luar kampus yang juga jadi penunjangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah ya Mbak ... ilmunya pun dicari di luar sekolah. Memang sebaiknya seperti itu.

      Delete
  19. Setuju banget nih kak, pendidikan dalam sekolah memang nggak cukup menggali potensi anak. Jadi memang penting banget bagi orang tua untuk mendukung anak dalam mengembangkan soft skillnya. Ya, salah satunya dengan ikut kursus.
    Dumet school ini memang recommended banget deh buat anak2 yang dari sononya sudah minat dengan dunia IT.

    Btw semoga si sulungnya lulus SMPTN ya.

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah ya mereka-mereka yang hidupnya di kota lebih sering dapet support sistem dari pendidikan luar sekolah ya Bun.
    Semoga hal serupa merambah juga ke daerah-daerah. Mupeng ilmunya pengen bergabung juga belajat dengan dumet school

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang di daerah mungkin nyari yang online dulu kali ya. Bisa juga mendatangi orang-orang yang ada di kotanya. Andai dekatm nih, saya mampir ke Nyi juga deh buat belajar.

      Delete
  21. Saya juga inginnya dumet school ada kelas online. Biar ibu rumah tangga di Jawa Timur seperti saya ini punya kemampuan di bidang digital. Hehe. Gak kalah sama mahasiswi yg pengusaha jamur di atas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, toss, Tha. Andai ada kursus online-nya, banyak yang berminat ya.

      Delete
  22. Setuju, berkaca dr pengalaman sendiri, yang menentukan kesuksesan kita nantinya itu memang bukan sekadar nilai bagus. Makanya sekarang aq nggak mau terlalu menekan anak untuk selalu dapet nilai bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes, setuju Mbak Wied. Banyak hal di luar sekolah yang perlu dipelajari untuk menunjang kemampuan diri.

      Delete
  23. Setuju! Upgrade softskill itu sangat penting. teringat kisahnya Steve Jobs yang berhenti kuliah gegara merasa menghabiskan uang keluarganya malahan dia ikut kelas kaligrafi diluar sekolah dan Alhasil dia menciptakan komputer Mac dengan indah hasil dari kelas kaligrafinya dulu.

    Semoga dedek Affiq bisa memaknai hidupnya dia mau jadi apa yah. Bu niar harus selalu support. Semoga dik affiq bisa lolos SNMPTN yahh. Aamiin

    ReplyDelete
  24. Makasih sharing ya Mba Niar..

    Jadi nilai bukan segalanya ya..

    Saya baru tau tentang Dumet School ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada kenyataannya, nilai sekolah bukan segalanya kan ya Mbak Kania. Kita masih harus terus memperkaya kualitas diri kalau mau bersaing :)

      Delete
  25. Semoga bakat si sulung makin terasah. Apa kabar saya yang udah kepala 3 tapi gak bisa ngedit video.

    Putra Sulungnya mba Niar dari kelas SMP udah mulai belajar bikin meme. Haa, cakep banget..

    Semoga makin semangat belajarnya. Dan memang dukungan dari orang tua itu perlu, biar anak-anak semangat untuk menggali potensi diri.

    Soft skill dan hard skill dalam dunia kerja keduanya diperlukan, kalau bisa seimbang.

    Semoga sukses untuk Mba Niar dan keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. SAya pun masih kesulitan ngedit video, Mbak hehe. Aamiin. Sukses ya buat Mbak Eri.

      Delete
  26. Pendidikan diluar sekolah ini nggak kalah penting ya mbk. Kadang malah lebih banyak dapat ilmu diluar sekolah. Sekarang banyak banget ruang belajar diluar sekolah, makannya sekarang banyak banget muncul pengusaha muda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mereka yang muda-muda sekarang punya banyak cara untuk belajar ya Mbak.

      Delete
  27. Halo, Niar cuma di fi sini kita nisa bertemu, ya. Ternyata memang benar dlm praktiknya rangking yg bagus tidak menjanjilan sesuatu hv kit harapkan tanpa adanya kegigihan, kekuatan tekAd di hati utk terus serius belajar. Do'a bunda buat Affiq semoga bisa mencapai apa yg dicita-citakan dan Sang Mama delalu mensupport kegiatan positif Affiq apapun. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Bunda ... aamiin. Iya Bun, pada kenyataannya seperti itu ya. Allah Maha Adil, tentunya setiap orang punya kemampuan mengasah kemampuan dirinya masing-masing. Gak mungkin yang ranking 1 saja yang berhasil. Dan pada kenyataannya pun tak demikian ya Bunda. Sehat terus ya Bun biar bisa bertemu meskipun melalui blog saja :)

      Delete
  28. ini masih PR terbesar aku buat ngasih pendidikan luarsekolah ke Darell anakku, meski ngaji tetap jalan seminggu dua kali tapi kan pengennya ada tambahan skill ya buat dia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara bertahap, Mbak. Nanti bisa dilihat minat Nak Darell mau ke mana, baru di-support.

      Delete
  29. Masa depan anak emang penting banget diperhatikan. Peran orang tua penting banget ini untuk mengarahkan anak. Meskipun tentunya minat anak" juga harus dipahami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar. Tentunya orang tua mengarahkan kepada yang sesuai dengan minat dan bakat anak ya Mbak.

      Delete
  30. Nilai itu bukan segalanya, bener banget mbak. Itu juga yg sering aku sampaikan ke anak2ku. Lebih penting punya budi pekerti serta sikap dan perilaku yg santun. Kebetulan anak2ku nilai akademik nya biasa tapi mereka punya kemampuan di bidang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ALhamdulillah, iya. Tuhan Maha Adil, setiap anak pasti punya jalannya sendiri ya Mbak Ika.

      Delete
  31. Jadi kepengen belajar coding. Biar kalo ada kesulitan di tampilan blog bisa utak atik sendiri. Penasaran sama dumet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, perasaan Ipeh sudah jago coding ini ... masih mau belajar lagi? Cus dilirik website Dumet, Peh :)

      Delete
  32. Salah satu alasan kenapa orang tuaku masukin aku ke SMK supaya aku punya keahlian lain yang bukan akademik aa
    aj Dan jujur aja aku nggak suka-suka banget sama pelajaran sekolah. Makanya nilai waktu di sekolahku biasa aja. Wkwk Aku lebih sukanya 'main' yang sambil belajar, lebih dalam maknanya. 😂

    Good luck ya buat Mas Affiq. 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. ALhamdulillah lebih terasa malah pelajarannya masuk dengan cara yang menyenangkan, ya? Good luck juga buat Mbak Laras :)

      Delete
  33. Masya Allah, semoga dek Affiq diberikan kelancaran ya proses seleksinya dan bisa lolos SNMPTN.

    Saya pun inginnya anak-anak lebih banyak mendapatkan pendidikan luar sekolah. Jadi ketika mereka aktif dengan kegiatan luar sekolah, saya dukung penuh dengan support system sebisa yang saya mampu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Mbak Wati. Aamiin, sukses juga buat Mbak Wati dan anak-anak yaa.

      Delete
  34. Setuju mbaaaa. Percuma sekolah tinggi klo gak punya kualitas diri. Karena di dunia kerja/bisnis, kadang latar blkg pendidikan gak begitu pengaruh asal kualitas dirinya mumpuni.

    ReplyDelete
    Replies
    1. YEs, setuju. Kita harus bisa mengeksplorasi kualitas diri kita ya Mbak soalnya di sekolah saja tidak bisa tereksplorasi seutuhnya

      Delete
  35. Suamiku contoh nyata, Mbak. Latar belakangnya bukan dari IT Programmer, tapi bisa jadi IT programmer dengan belajar sendiri secara kontinyu dan serius. Cuma, butuh waktu super panjang karena enggak ada mentor khusus. Kalau ikut Dumet School, bisa investasi waktu nih. Jadi bisa langsuhg berkarya dengan pendampingan mentor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah. Iya Mbak Wid, saya menemukan banyak orang seperti suami Mbak Widi. Malah dari Makassar ada seorang kuli panggul pelabuhan yang menjadi developer dan sudah mendapat banyak uang dari Google. Terakhir saya lihat di Facebooknya, dia sedang membangun rumah buat keluarganya.

      Delete
  36. Anakku tahun lalu gagal di SNMPTN, dan nggak mau ikutan sbm, cuti satu tahun untuk istirahatin otak, katanya. Tahun ini coba ikut ujian sbm dengan universitas dan fakultas pilihannya sendiri yang sesuai dengan kemampuannya, kami orang tuanya tinggal manut saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak sudah tahu apa yang dia mau ya Makpuh, jadi diikuti saja. :)

      Delete
  37. Wah bener banget tuh. Terima kasih informasinya sangat bermanfaat

    ReplyDelete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^