Pesan Moral, Ganjalan, dan Warning dalam Film Terbang Menembus Langit

"Karena kita orang China," sang kakak bemaksud menunjukkan pada Achun bahwa perjuangan dari kota kecil Tarakan ke Surabaya itu tak mudah. "Kita orang Indonesia keturunan China," tangkis Achun. Keduanya berdebat ketika Achun menyampaikan keinginan kuatnya untuk merantau ke Surabaya. Akhirnya kakak-kakaknya menyetujui Achun merantau ke kota pahlawan. Di sinilah perjuangan kehidupan yang sesungguhnya itu bermula. Benar-benar perjuangan luar biasa dari seseorang bernama lengkap Onggy Hianata (Achun) yang menjadi sumber inspirasi flm Terbang Menembus Langit ini. Hal pertama yang paling menarik dari film ini bagi saya adalah: based on true story!


Dion Wiyoko membawakan peran sebagai Onggy dengan gemilang. “Akting yang wajar” – kata saya untuk orang-orang yang bermain dengan natural dalam sebuah lakon. Ya, seperti Dion. Pun seperti Laura Basuki yang menjadi istri Onggy dalam film ini. Saya pun suka dengan aktingnya. Ah, masih ada sederetan nama lain yang bermain apik. Ada Aline Adita, Baim Wong, Delon Thamrin, Melisa Karim, dan komika Indra Jegel serta Fajar Nugra.

Tak melulu jatuh-bangunnya memperjuangkan hidup, film ini dibalut pula dengan komedi situasi ketika Onggy dikawani 3 room mates konyol asal Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Papua selama tinggal di kamar kos di Surabaya. Ketiganya mewarnai suka dan duka perjuangan hidup Onggy selama masa lajang yang kebanyakan scene-nya berurusan dengan makanan, mulai dari apel, sambal, hingga jagung bakar 😝

Romansa Achun (Onggy Hianata) dan sang istri
Selain itu ada kisah Onggy mengejar cinta, menikah, hingga drama rumah tangganya yang berulang kali mengalami pasang-surut ekonomi tidak hanya berkubang air mata. Pendeknya, film besutan sutradara Fajar Nugros dan Demi Istri Production (produser: Susanti Dewi) ini mengandung pesan-pesan moral berikut yang seharusnya dibawa pulang para penontonnya saat keluar dari gedung bioskop:

1. Keberagaman itu indah.

Syaratnya disebut Indonesia adalah karena kita berbeda. Ada Indonesia keturunan Bugis, keturunan Jawa, keturunan Tionghoa, dan sebagainya. Sepenggal kalimat itu dilontarkan oleh salah seorang pendukung film saat meet up dengan mereka di depan XXI Trans Studio Mall sebelum premiere. Maaf, saya lupa siapa yang mengatakannya karena saya datang setelah perkenalan para pendukung film Terbang selesai.

Meet up dengan pendukung film Terbang Menembus Langit di Makassar
Yang jelas, saya mendengar dan membenarkan kalimat tersebut. Saya pun termasuk orang yang meresapi warna-warni keberagaman yang indah di negara ini. Mulai dari dua orang tua yang berbeda suku dan bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai suku dan latar belakang di masa-masa sekolah, masa merantau di awal pernikahan, dan saat ini – ketika aktif bermedia sosial dan tergabung dengan banyak komunitas yang anggotanya seindonesia raya bahkan ada yang tinggal di luar negeri.

Walah malah nyaris ngelantur, ya. Yang mau saya bilang: potret keberagaman ada di dalam film ini. Mulai dari pergaulan Onggy di daerah asalnya di Tarakan (Kalimantan Timur) hingga merantau ke Surabaya lalu ke Jakarta. Penggambaran keberagaman dalam film ini indah. Bahkan ketika kerusuhan 1998 pun dilukiskan dengan hati-hati sekali dan menyelipkan pesan keberagaman yang indah di dalamnya.

2. Kesetiaan mampu mendukung untuk bangkit dari kegagalan.

Kuatnya karakter istri Onggy terdeskripsikan dengan gamblang. Mendukung suami berpindah tempat dan berpindah pekerjaan menguatkan sosok Onggy untuk terus bangkit dari kegagalan yang bertubi-tubi. Akting apik dari Laura Basuki membuat sosok istri Onggy itu jadi sempurna. Kewajaran seorang istri di posisinya saat merasa sedih, kecewa, marah yang berubah-ubah kadarnya, diselingi tawa dan lirikan manja di saat lain, terwakili dengan indah pada diri Laura Basuki. Laura memang bisa mengimbangi berubah-ubahnya akting Dion dalam menggambarkan keadaan emosionalnya yang juga berubah-ubah. Dalam film ini, Dion harus membawakan emosi cemas, ceria, sedih, kasmaran, marah, hingga frustrasi.

Akting Dion Wiyoko
Bukan hanya kesetiaan seorang istri. Ada kesetiaan sahabat-sahabat dan saudara-saudara kandung Onggy dalam film ini. Mereka membantu Onggy bangkit berkali-kali dari keterpurukan.

3. Keuletan tiada tara adalah syarat kesuksesan.

Onggy adalah contoh sosok yang ulet tiada tara! Cerminan dari kelebihan para keturunan Tionghoa yang saya dengar. Kalau butuh motivasi, seraplah inspirasi dari film ini. Dialah sosok sentral makanya film ini dibuat. Kalau dirimu pejuang kehidupan yang saat ini sedang berjuang mengalahkan tantangan dahsyat atau yang sedang terpuruk dan butuh suntikan nyali untuk bangkit, barangkali di film ini ada serum yang kau butuhkan! Pertanyaan “Kau tak bosan gagal?” yang ditujukan pada Onggy, tak pernah menjatuhkan mentalnya!

Official trailer film Terbang Menembus Langit

Selaksa pujian di atas harus saya hentikan sampai di sini untuk beralih membahas dua ganjalan kecil. Kecil saja namun saya berharap ke depannya agar pembuat film berhati-hati karena tetap rasanya ada yang kurang jika ada bagian film yang tak logis maka saya mencatat hal ini:

Bugis tak sama dengan Makassar.

Foto: by Abby Onety
Di adegan awal, ketika ayah Onggy mendamaikan pertikaian antara orang Tidung dan orang Makassar, adegan ini mengganggu saya. Saat ayah Onggy bertanya kepada si orang Makassar, si orang Makassar memperkenalkan dirinya. Ayah Onggy mengatakan kepada yang ada di sekitarnya bahwa si orang Makassar ini adalah “orang Bugis” dan balik menyapanya dengan bahasa Bugis. Padahal Bugis dan Makassar itu dua suku yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula. Yang terjadi dalam film ini seperti jika orang Jawa dikasih bahasa Sunda dan si orang Jawa dibilang orang Sunda. Begitu, lho. Ya, ada sih kosa katanya yang sama dalam bahasa Bugis dan Makassar tapi untuk ke depannya harap hati-hati, ya. Sayang saja kalau ada logika yang lepas dalam film bagus.

Oya, satu lagi  warning yang ingin saya sampaikan. Kalau mengajak anak menonton, agar anak menyimak dengan baik memang sebaiknya mengikuti anjuran bahwa film ini diperuntukkan bagi usia 13 tahun ke atas. Mengapa? Karena ada 2 hal:

1. Adegan kissing.

Ada satu – hanya satu adegan kissing yang tak elok dilihat anak-anak di film ini, yaitu adegan pernikahan Onggy dan istrinya. Kissing-nya itu di bibir, lho Ayah, Bunda. Saya saja – yang masih konvensional ini – risih melihatnya. Buat orang lain mungkin biasa saja, saya saja yang risih. Lha bukan budaya saya, toh 🙈

Laura Basuki sebagai istri Achun

2. Adegan pendarahan.

Ketika hamil anak pertama, istri Onggy sempat mengalami pendarahan. Adegannya memperlihatkan darah mengaliri paha istri Onggy. Saya pikir akan sulit menerangkan adegan ini pada anak yang masih sangat kecil. Ya, kalau tetap mau membawa anak kecil, siap-siap saja kalau-kalau anak melontarkan pertanyaan ajaib tentang adegan darah di paha itu, ya Ayah, Bunda? 😘

Well, over all, ganjalan-ganjalan di atas tidaklah meruntuhkan keelokan film ini untuk dijadikan hiburan yang bergizi bagi keluarga. Maka usai menontonnya bersama kawan-kawan blogger dan media, saya bersedia menjawab pertanyaan "baguskah film TERBANG" ini dengan jawaban lantang "BAGUS!!!" So, guys, catat tanggal mainnya serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia film Terbang Menembus Langit mainnya 19 April ini!

Makassar, 4 April 2018




Share :

24 Komentar di "Pesan Moral, Ganjalan, dan Warning dalam Film Terbang Menembus Langit"

  1. Catet dulu ah tanggal tayangnya. :D Biar gak ketinggalan nanti pas mau nonton.

    ReplyDelete
  2. makasih reviewnya mba Niar, berarti anak saya belum bisa nonton film ini. pengen ketawa dengan bulu mata cetar..hehe..ya film juga walau fiksi harus logis ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagusnya jangan di bawah 13 tahun. Di samping itu, filmnya memang temanya cocoknya untuk mereka yang sudah berpikir tentang kehidupan. Kalo 13 tahun ke atas mungkin memang sudah cocoklah ya

      Delete
  3. Dion Wiyoko dan Laura Basuki.. dua bintang film favoritku.. gak sabar nungguin 19 April nih kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, mereka keren. Nonton berdua suami, Prima :)

      Delete
  4. Pingin nonton filmnya nih, jadi gak sabar.

    ReplyDelete
  5. Jadi ada adegan kissing, jadi gak bisa ajak adek nih. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu kali saja sih. Kalau sudah tahu kira-kira di bagian mana, adek ditutup matanya hihi. Lho, ngawur :D

      Mending jangan dibawa, lah. Kasihan anaknya. Anak-anak pantasnya nonton film ceria khas anak-anak, jangan film tentang kehidupan hehe.

      Delete
  6. inginku terbang ke Makassar kak...heheheh..

    ReplyDelete
  7. Mantap reviewnya. Bikin pingin nonton nih😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneran keren filmnya, Mbak Farida, ini tulisan tulus karena senang. Film yang patut dijadikan pilihan di bulan ini :)

      Delete
  8. OMG! Tarakan itu kota kedua ku sebelum pindah Jakarta Niar ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaah, Mbak Tanti pernah di Tarakan ternyata, ya. Jadi mirip Pak Onggy, ke Tarakan tapi beliau ke Surabaya dulu, lalu ke Jakarta. Eh, jangan-jangan Mbak Tanty kenal sama Pak Onggy?

      Delete
  9. Kayaknya kudu nonton ini filem, suka dengan tema2 macam ini, perjuangan dalam hidup

    ReplyDelete
  10. Wah mba Niar udah nonton ya. Aku blm sempat nonton padahal kemarin ada yg nawarin tiketnya hehe

    ReplyDelete
  11. Mesti ditonton nih nanti, kalo udah rilis. Sepertinya bagus filmnya.

    ReplyDelete
  12. Keberagaman itu harusnya mempersatukan kita ya mbak. Aku aja walaupun ga ada keturunan cina, tapi sipit. Terus sering diomongin cina. Padahal apa salahku dan orang cina coba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang ngomong begitu perlu ditatar tuh

      Delete

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^