PARKIR Makassar: Kolaborasi Inklusif dan Dekarbonisasi Transportasi -Catatan ini berawal dari sebuah surat untuk saya via WhatsApp yang ditandatangani oleh Pak Dimas N. Fadhil, Urban Mobility Manager WRI Indonesia. Isinya bukan sekadar undangan formal, melainkan sebuah ajakan reflektif untuk terlibat dalam "Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi" atau yang akrab disingkat PARKIR Makassar. Sebagai kelanjutan dari inisiatif di Jakarta, program ini membawa misi mendesak: mendorong dekarbonisasi transportasi yang inklusif.
1. Pembukaan: Sebuah
Undangan dan Misi untuk Makassar
Membaca rencana fase kedua Program UK PACT (United Kingdom Partnering for Accelerated Climate Transitions) ini, ada rasa antusias sekaligus tanggung jawab yang besar. Mengapa keterlibatan WRI Indonesia dan dukungan Inggris ini menjadi sangat krusial bagi Makassar? Laporan Bank Dunia tahun 2019 telah memberi alarm bahwa Makassar berada pada titik kritis kemacetan. Lewat koordinasi apik dari Kak Luna Vidya beserta Pak Rusdin, Amy, Daeng Malik, dan Bu Mira sebagai fasilitator, saya melihat PARKIR bukan sekadar proyek teknis, melainkan ruang untuk merumuskan ulang bagaimana warga Makassar dan Barrang Lompo bergerak dan berinteraksi dengan wilayahnya secara berkelanjutan.
Sebelum
kita menyelami cerita kolaborasi ini, mari kita bedah terlebih dahulu substansi
yang sering terdengar "berat" namun sangat dekat dengan keseharian
kita: dekarbonisasi
transportasi.
2. Memahami Esensi: Dekarbonisasi Transportasi dan Keadilan Akses
Dekarbonisasi
transportasi bukan sekadar mengganti kendaraan bensin ke listrik. Secara
nasional, sektor transportasi menyumbang 21% emisi gas rumah kaca (GRK) di
sektor energi. Di Makassar, masalah ini terasa nyata setiap kali kita menghirup
udara di jalan raya. Berdasarkan data teknis, pertumbuhan sepeda motor yang
masif menjadi penyumbang utama polutan CO dan NMVOC, sementara kendaraan berat
(HDV) bermesin diesel mendominasi emisi NOx dan partikulat halus (PM10).
Untuk
menjawab tantangan ini, kita diperkenalkan pada kerangka strategis "Avoid-Shift-Improve"
(ASI):
- Avoid (menghindari): mendesain
kota yang kompak (kota 15 menit) sehingga kebutuhan perjalanan jauh berkurang
karena hunian dan layanan dasar sudah berdekatan.
- Shift (beralih): mendorong
warga beralih ke transportasi umum atau mobilitas aktif (berjalan
kaki/bersepeda). Kita punya "bukti nyata" lewat program Trans
Mamminasata yang sekarang menjadi Trans Sulsel yang bisa menjadikan
penumpangnya yang sebelumnya menggunakan sepeda motor menjadi pengguna bus.
Saya sendiri mengalami, beberapa kali naik bus harus berdiri karena banyak masyarakat
yang naik.
- Improve (meningkatkan): memperbaiki
teknologi kendaraan agar lebih hemat energi dan menggunakan bahan bakar bersih
(elektrifikasi).
Pergeseran
paradigma ini adalah kunci. Kita harus berhenti mengukur kesuksesan hanya dari
"seberapa lancar mobil bergerak" dan mulai fokus pada "seberapa
adil dan efisien manusia mengakses tujuannya".
Perbandingan
Paradigma Transportasi
|
Indikator |
Transportasi
Konvensional |
Transportasi
Berkelanjutan |
|
Ukuran Sukses |
Kelancaran
arus mobil pribadi |
Aksesibilitas,
Keadilan, dan Efisiensi |
|
Fokus Utama |
Menambah
kapasitas jalan |
Integrasi
tata ruang dan mobilitas aktif |
|
Dampak Lingkungan |
Polusi
udara (CO, NOx, PM10) tinggi |
Penurunan
emisi dan udara lebih sehat |
Transisi ini secara otomatis membawa kita pada pertanyaan kemanusiaan: siapa yang suaranya paling jarang terdengar dalam perencanaan jalan kita? Di sinilah lensa GEDSI menjadi pemandu.
3. Lensa GEDSI: Karena Jalan Kita Tak Pernah Sama
PARKIR Makassar: Kolaborasi Inklusif dan Dekarbonisasi TransportasiDalam
menyusun kebijakan, pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menhub No. 8/2023.
Namun, aturan ini butuh ruh agar benar-benar inklusif. Melalui PARKIR, prinsip GEDSI
(Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) diletakkan
sebagai fondasi.
Pengalaman
bermobilitas itu personal. Seorang pria muda dengan sepeda motor tentu memiliki
tantangan yang sangat berbeda dengan Ibu Maria Un, Ketua I Himpunan
Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sulawesi Selatan, atau Ibu Kurniati,
warga Pulau Barrang Lompo yang harus mengandalkan transportasi laut. Program
ini secara sadar melibatkan 20 peserta dengan komposisi inklusif: 4 warga
setempat, serta 4 penyandang disabilitas beserta para pendampingnya.
Mengapa
riset partisipatif seperti transect walk dan FGD lebih efektif? Karena
angka statistik tidak bisa menangkap rasa takut perempuan saat berjalan di
trotoar yang gelap atau kesulitan kawan disabilitas saat menghadapi tangga
tinggi. Melalui metode ini, kita menangkap "keragaman bermobilitas"
yang nyata untuk memastikan kebijakan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
4. Di Balik Layar PARKIR Makassar: Inkubasi dan Kolaborasi
Perjalanan
intens ini berlangsung selama lima hari (20-24 April 2026). Atmosfer
pembelajaran interdisipliner terasa kental di Four Points Makassar, diperkuat
oleh paparan para pakar seperti Mbak Bella Aryani (Low Carbon Transport
Coordinator) dan Kak Stella Hutagalung (GEDSI Senior Specialist).
Saya
kira, momen paling berkesan bagi 20 peserta terjadi pada Kamis, 23 April, saat mereka
melakukan kunjungan lapangan ke Pulau Barrang Lompo. Di sana, metode transect
walk diuji secara nyata dalam konteks pulau. Di tempat di mana mobil bukan
masalah utama, para peserta diberikan pengalaman bahwa mobilitas tetap punya
tantangan unik, mulai dari akses dermaga hingga kenyamanan pejalan kaki di
gang-gang sempit.
Para
peserta yang merupakan "orang muda" sebagai champion bekerja
sama dengan warga lokal untuk membuat peta partisipatoris. Ini bukan sekadar
peta koordinat, melainkan peta aspirasi yang menyuarakan di mana titik-titik
rawan dan di mana akses yang paling dibutuhkan warga pulau.
5. Menulis untuk Membumikan Penelitian: Peran Mentor
Di
sinilah peran saya sebagai mentor penulisan masuk ke dalam bingkai besar
PARKIR. Tugas saya adalah mendampingi para peserta untuk "membumikan"
data teknis emisi dan hasil riset lapangan menjadi narasi perubahan yang
menggugah.
Penulisan
kolaboratif ini bukan sekadar menulis tentang kelompok rentan, melainkan
menulis bersama mereka. Tulisan-tulisan ini – baik berupa foto esai
maupun artikel riset popular – ditujukan untuk memberi masukan nyata bagi Peta
Jalan (Roadmap) KepMenhub No. 8/2023.
Dalam
sesi mentoring, saya membawakan presentasi berjudul Dari Cerita Menjadi Tulisan
Advokasi Warga. Secara sederhana, advokasi adalah upaya menyuarakan sesuatu
agar terjadi perubahan. Inti advokasi ada 3 hal: ada masalah, ada pihak yang
terdampak, dan ada dorongan perubahan.
Kenapa
tulisan bisa jadi alat perubahan? Ada 4 alasan, yaitu: tulisan membuat yang
“tidak terlihat” jadi terlihat, tulisan memberi wajah pada masalah, tulisan
bisa menyebar, dan tulisan bisa jadi dasar keputusan.
Misi
mulia dari program ini adalah bahwa data yang diperoleh di lapangan dan karya
berupa tulisan serta foto esai yang dihasilkan bisa menjadi sumbangsih bagi
kebijakan transportasi yang mementingkan lingkungan dan berperspektif GEDSI. Data
di lapangan diharapkan bisa diolah menjadi cerita manusia yang menyentuh empati
pembuat kebijakan dan siapapun nanti yang membacanya.
6. Penutup: Menanam Harapan untuk Transportasi Masa Depan
Program
PARKIR Makassar mengingatkan kita bahwa dekarbonisasi adalah soal keadilan.
Bagi kota pesisir seperti Makassar, ini adalah soal kelangsungan hidup. Urgensi
menekan emisi transportasi berkaitan erat dengan mitigasi ancaman peningkatan
muka air laut dan gelombang panas yang dipaparkan dalam diagram risiko iklim
WRI.
Strategi
"Avoid-Shift-Improve" bukan sekadar teori di atas
kertas, melainkan jalan bagi kita untuk mengawal implementasi KepMenhub No.
8/2023. Melalui koalisi antara anak muda, organisasi sipil, dan warga lokal,
kita berupaya menanam harapan bahwa masa depan transportasi Makassar akan lebih
memanusiakan manusia.
Sebab,
sebagaimana yang tergambar dalam program PARKIR ini:
Transportasi itu bukan cuma jalan dan kendaraan, tapi soal akses, waktu, dan keadilan.
Makassar, 1 Mei 2026
Share :



0 Response to "PARKIR Makassar: Kolaborasi Inklusif dan Dekarbonisasi Transportasi"
Post a Comment
Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya tapi jangan tinggalkan link hidup. Oya, komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^