Tampilkan postingan dengan label Kesejahteraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesejahteraan. Tampilkan semua postingan

8 Langkah Dukung BPK Kawal Harta Negara

“Sudah kami bawa ke kejaksaan, ke kepolisian, tidak ada yang temuan mencurigakan dalam laporan pertanggungjawaban kami,” ucap ketua pengurus komite SMA – sekolah anak sulung saya. Saya mendengarnya beberapa kali mengucapkan hal itu saat menghadiri rapat pertanggungjawaban pengurus lama dan pemilihan pengurus baru di sekolah si sulung pada hari Sabtu lalu.
Baca selengkapnya

Menakar dan Menitip Asa Tentang Layanan Publik di Puskesmas

 If you do build a great experience, customers tell each other about that. Word of mouth is very powerful (Jeff Bezos, CEO Amazon.com) 

Ada Masalah!

 “Mau cabut gigi anak saya, Pak,” kata saya kepada salah seorang petugas yang sedang berjaga di loket sebuah Puskesmas.
Baca selengkapnya

Philanthropy Learning Forum on SDGs: Serba-Serbi Penerapan SDGs pada Filantropi

Masih ada penuturan menarik dari Pak Hamid Abidin terkait filantropi dan Filantropi Indonesia, sebelum tiga nara sumber lainnya mempresentasikan materi mereka. Materi ini baru dan menarik bagi saya. Oleh sebab itu saya menghadiri Philanthropy Learning Forum on SDGs: SDGs Sebagai Tools Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Kemitraan di Gedung BaKTI pada tanggal 19 September lalu. Mengenai apa itu filantropi, apa itu SDGs dan kaitan antara filantropi dan SDGs, Anda bisa membacanya di tulisan berjudul: Philanthropy Learning Forum on SDGs: Kaitan Antara Filantropi dan SDGs.

Baca selengkapnya

Menuju Layanan Kesejahteraan Anak yang Holistik dan Komprehensif

Dimuat di BaKTI News No. 129 September - Oktober 2016

Masih ingat kasus seorang oknum dosen di Cibubur, bersama istrinya menelantarkan kelima anaknya pada tahun 2015 lalu? Sepasang suami istri itu akhirnya dijerat dengan pasal 76 (b) dan pasal 77 (b) Undang-Undang 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Mau tahu yang lebih ekstrem lagi? Ada orang tua yang menjadikan anak perempuannya sebagai pekerja seks komersial! Sebagian dari kita pasti merasa aneh dan ingin merutuki yang demikian. Karena sudah seharusnyalah orang tua sendiri yang paling berperan melindungi anak, bukan menelantarkan atau menjualnya. Namun, begitulah kenyataannya. Hal-hal yang ekstrem itu bisa saja terjadi. Bahkan profesi dan pendidikan akhir pelaku yang sangat terhormat di tengah masyarakat sekali pun tidak mampu menghalanginya dari perbuatan tercela.
Baca selengkapnya

Pendidikan, Aset untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Mula pertama merantau ke Makassar, saat belum menikah, kedua orang tua saya punya harapan agar sekolah di perantauan bisa membuat masa depan mereka menjadi lebih baik. Ayah saya kelahiran Wajo tahun 1940, berdomisili di kota Soppeng, merantau ke Makassar (dulu bernama Ujung Pandang) pada sekira pertengahan tahun 1950-an. Sementara ibu saya yang kelahiran Gorontalo tahun 1943, berdomisili di kota Gorontalo (dulu masih bagian dari provinsi Sulawesi Utara), merantau ke Makassar menjelang tahun 1960.

Sejak dulu, Makassar memang menjadi tujuan masyarakat wilayah Indonesia timur untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan meraih masa depan yang lebih menjanjikan. Kedua orang tua saya adalah generasi pertama para pelajar di kota ini.
Baca selengkapnya

Harus Melawan Asap Lagi

Asap lagi! Tahun lalu ada gerakan #MelawanAsap di media sosial. Tahun ini gerakan itu ada lagi. Apakah tiap tahun seindonesia harus teriak-teriak seperti ini?”pertanyaan itu terbetik di benak saya ketika mengetahui hashtag #MelawanAsap di media-media sosial marak kembali dan menjadi trending topic.

Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan warga Singapura kepada warga Indonesia yang ada di Singapura. Seorang kawan  yang tinggal di Singapura bercerita kepada saya, “Orang Singapore pada nanyain, tiap tahun seperti ini, masak pemerintah gak bisa mencegah?” Waduh, kebayang, kalau saya yang ditanyai seperti itu oleh warga negara lain, saya pasti bingung mencari tempat simpan muka. Mau taruh di mana muka saya? Orang-orang di negara saya tahun ini lagi-lagi mengekspor asap ke negara tetangga, seperti tahun lalu!
Baca selengkapnya

PLN, Antara Krisis Energi dan Ketersediaan Listrik

Pernah hidup tanpa listrik? Saya pernah. Pada awal tahun 1989, ketika saya mengikuti orang tua pindah ke rumah baru milik orang tua saya. Waktu itu kami bisa hidup berbulan-bulan tanpa listrik, juga tanpa telepon. Rasanya biasa saja. Happy-happy saja.

Kalau sekarang hidup tanpa listrik …. Waaah, rasanya kesulitan hidup bertambah. Pasalnya karena saya harus mengurusi ketiga buah hati saya dan menyelesaikan aneka pekerjaan rumah sendirian. Kalau di masa sekolah dulu ada yang mengurus urusan dapur dan cucian, sekarang harus mengurus sendiri. Belum lagi berbagai urusan menjadi lebih terkendala manakala telepon genggam kehilangan dayanya. Makanya kesulitan lebih terasa.

Akhir-akhir ini pemadaman listrik di berbagai daerah terjadi. Bila diusut-usut, penyebabnya bermuara pada KRISIS ENERGI. Produksi listrik oleh PLN membutuhkan energi yang sebagian besar berasal dari sumber energi fosil (batu bara – sebesar 43% dan minyak bumi – sebesar 24%).
Baca selengkapnya

Pentingnya Perempuan Melek Finansial

"Perempuan itu harus siap untuk dua hal: ditinggal mati atau ditinggal kawin oleh suaminya."

Saya terkesiap membaca kalimat ini dalam blog seorang kawan. Sungguh menakutkan pernyataan ini! Walau menakutkan, pesan yang ingin disampaikan begitu dalam dan moderat: sang ibunda menghendaki putrinya menjadi perempuan yang melek finansial.

Kenyataannya, di sekeliling kita banyak sekali perempuan yang merana setelah salah satu dari dua hal itu terjadi pada dirinya. Pada tulisan saya berjudul CintaPerempuan Pejuang Cinta, ada kisah bu Ety yang tiba-tiba ditinggal mati suaminya dan harus berjuang mengatasi keterpurukan selama bertahun-tahun. Tak mudah baginya untuk bangkit karena ia tak berpenghasilan. Penghasilan utama dalam keluarganya adalah gaji bulanan suaminya sebagai pegawai sebuah BUMN.

Perlahan-lahan, dengan bantuan keluarga dan rekan-rekan kerja suaminya ia berhasil bangkit sebagai pegawai sebuah unit usaha dalam lingkup BUMN itu. Ia pun meniti hidupnya bersama keempat anaknya. Kini, sebagian anaknya telah menikah dan telah meringankan beban hidupnya.
Baca selengkapnya