Cek Dulu Kebenarannya Sebelum Mengharamkannya

Kadang-kadang isu terhadap sebuah produk menjadi besar padahal muasalnya sederhana saja. Seperti waktu sebuah merek kecap dikatakan oleh ibu saya sebagai “kecap yang berbahaya”. Kalau ditanya siapa yang mengatakan, beliau hanya bisa mengatakan sumbernya dari seorang kerabat. Kalau ditanya apa alasannya, beliau tidak bisa menjelaskannya. Kalimat pamungkasnya adalah, “Pokoknya jangan dibeli!” Titik.



Saya bingung sendiri. Isu seperti ini tidak bisa serta-merta saya percayai karena televisi tidak heboh memberitakannya. Pun lini masa media sosial juga tidak ramai dengan perbincangan emak-emak tentang produk ini. Usut punya usut ternyata tidak seperti itu sebenarnya.

Jadi, di negeri Matahari Terbit sana, kandungan zat tambahan yang berasal dari bahan kimia dalam kecap itu dibolehkan dalam kadar tertentu. Kadar itu lebih rendah daripada yang diperbolehkan beredar di Indonesia. Nah, kecap yang seharusnya untuk konsumsi orang Indonesia diekspor ke Jepang. Jelaslah kandungannya lebih tinggi. Kedapatanlah sama pihak yang berwenang di sana lalu dilaranglah kecap merek itu masuk. Entah bagaimana ceritanya produsen dari negara kita segegabah itu. Kalau di Indonesia, dengan kadar zat tambahan tersebut yang ada dalam kandungan kecapnya, masih bisa beredar, di Jepang sudah tidak boleh. Sudah dianggap membahayakan (longgar sekali, kan negara kita?)

Nah, isu inilah yang berkembang yang kemudian beredar ke mana-mana tanpa argumen yang jelas. Pokoknya jangan beli. Berbahaya. Itu saja. Padahal kan tidak sesederhana itu. Kita harus menelaah penyebab pernyataan itu ada. Kalau benar, no problem. Lha kalau salah? Jadinya fitnah, kan? Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, teman!

Sepertinya begitu pun yang dialami Natur-E. Keraguan bahwa Natur-E mengandung minyak babi berkembang dari pertanyaan mengenai dari bahan apakah kandungan gelatin yang terdapat pada Natur-E. Gelatin adalah zat kimia padat, tembus cahaya, tak berwarna, rapuh, dan tak berasa yang didapatkan dari kolagen yang berasal dari berbagai produk sampingan hewan (Wikipedia). Bahan baku gelatin adalah tulang sapi, domba, unggas, babi, ikan, dan lain-lain namun banyak produk yang menggunakan gelatin dari babi. Maka wajar saja ada yang mempertanyakannya karena muslim Indonesia sangat peduli akan hal ini sebab tak mau melanggar aturan agama.


Lalu, bagaimana dengan gelatin yang terkandung dalam Natur-E? Mulanya, saya berpikir positif saja. Saya pikir tak mungkinlah ada brand yang bertahan lebih dari 40 tahun mau menjatuhkan dirinya sendiri dengan memakai gelatin yang berasal dari minyak babi. Masih lekat dalam ingatan saya iklan produk ini pada majalah milik ibu saya. Ibu saya berlangganan majalah wanita saat saya masih kecil, kira-kira akhir tahun 1970-an – awal tahun 1980-an. Saat itu produk Natur-E masih yang berupa vitamin. Sekarang produknya sudah bervariasi. Bukan hanya perawatan dari dalam (yang diminum), juga ada perawatan dari luar untuk kulit dan wajah.

Saat mencari tahu, saya mendapatkan jawabannya. Gelatin yang terdapat pada Natur-E Soft Capsule berasal dari tulang rawan sapi yang berarti halal dikonsumsi. Selain itu Natur-E juga merupakan produk bersertifkasi halal dari MUI. Bahkan merupakan satu-satunya produsen vitamin E di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi halal dari MUI untuk proses produksinya – mulai dari pemilihan bahannya, jalannya produksi sampai pengemasannya. Nah!

Produk ini erat sekali kaitannya dengan vitamin E yang penting bagi tubuh. Vitamin E penting untuk menunjang kinerja organ tubuh. Zat ini memiliki efek antioksidan yang mampu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan. Di sebuah website disebutkan bahwa: “manfaat suplemen vitamin E yang selama ini dikaitkan dengan kulit dan kesuburan masih belum bisa dipastikan sepenuhnya”. Entahlah, ya. Yang jelas kalau sampai bisa bertahan lebih dari 40 tahun, berarti banyak orang yang mendapatkan manfaatnya dari produk ini seperti yang dijanjikan: “inspirasi kecantikan dalam dan luar”. Ini opini saya, sih. Menurutmu bagaimana?


Makassar, 16 Maret 2017


Share :

10 Komentar di "Cek Dulu Kebenarannya Sebelum Mengharamkannya"

  1. iya mba, apalagi skrg sudah banyak medsos. terkadang di group WA pun banyak yg menyebar berita yg blm tentu benarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Dan kalau tidak hati2, kita jadi ikut jadi penyebar kebohongan

      Hapus
  2. masuk akal sih mbak, perusahaan besar yang bertahan slama puluhan tahun bakal menjaga kualitas produknya sesuai selera pasar. Mayoritas penduduk Indonesia muslim, ya mreka bakal pakai bahan halal.

    Tapi saya belum pernah pakai sih. Nggak banyak cari tau juga info tentang Natur E. Yang saya tau produk itu mengandung vitamin E dan harganya meski tak terlalu mahal namun tak terjangkau kantong saya. Saya lebih memilih pakai bahan alami yaitu kulit pisang. Beberapa minggu ini dipakai alhamdulillah hasilnya cukup nampak. Kata mamak, suami dan kakak ipar saya wajah saya tampak lebih cerah. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kulit pisang? Wow patut dicoba, Mbak. Digosokkan secara halus saja di wajah, ya?

      Hapus
  3. aku jg paling sebel ama org2 yg suka bilang ga bolehlah, haram lah, tp ditanya apa buktinya ato kenapa, ga bisa jawab -__- ..

    aku udh percaya bgt ama natur e mba.. make ini udh dr smu sampe skr.. tp kalo dulu pake yg natur e biasa, skr udh pake yg advance tuh, yg kapsulnya merah :).. memang bgs kok, aku ngerasain bgt manfaatnya.. kalo temen2ku di usia yg sama ama aku udh mulai keriput, aku belum ada.. :D .. kuncinya rutin aja konsumsi begini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini testimoni langsung dari pengonsumsi Natur-E. Alhamdulillah ya Mbak. Iya, lho kalau lihat foto2 di blognya, Mbak Fanny masih terlihat muda padahal sudah punya dua anak :)

      Hapus
  4. Yaa...begitulah ibu-ibu yang sangat sayang terhadap anaknya. Ketika ada berita isu yang membahayakan anak atau keluarganya pasti panik-panik gitu, biasanya saya suruh cek kebenarannya dulu khususnya pesan yang di share ke WA yang tata bahasanya membuat seakan-akan sangat penting dan berbahaya.
    Contohnya yang kasus virus antrax yang melanda sebuah desa, gara-gara salah cari informasi desa tersebut dan rumah sakit yang merawat korban hampir diisolasi sama masyarakat karena takut bahaya virus antrax. Kemudian para dokter dan ahli meluruskan berita tersebut bahwa virus antrax tidak menyebar melalui udara melainkan melalui mengkonsumsi daging yang terinveksi virus antrax.
    Pesan yang diberikan di WA sangatlah membesar-besarkan bahaya virus antrax yang menyebabkan kekhawatiran bagi pengendara yang biasa lewat desa/rumah sakit tersebut, dan pada akhirnya para dokter dan ahli menenangkan isu tersebut dengan fakta yang benar.

    yaa... begitulah masyarakat Indonesia ketika ada berita heboh asal share sana sini tanpa mematikan kebenarannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah .. masyarakat kita masih harus terus diedukasi ya

      Hapus

Untuk saat ini kotak komentar saya moderasi karena banyaknya komen spam yang masuk. Silakan tinggalkan komentar ya. Komentar Anda akan sangat berarti bagi saya. Tapi komentar yang kasar dan spam akan saya hapus ya ^__^